Saat Takdir Menghampiri Kita

Saat Takdir Menghampiri Kita

  • WpView
    Reads 926
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadMatureComplete Tue, May 3, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Setiap malam aku selalu berdoa agar kenanganku bisa kembali dengan sempurna. Tapi percuma, seberapun aku memohon kenangan itu tidak pernah kembali. Aku selesai sholat dan mulai bersiap untuk tidur, seperti biasa aku kembali berdoa. Aku hanya menutup mataku sebentar ketika kenangan-kenangan itu mulai muncul kembali, bahkan lebih rapi dan berurutan, mulai dari aku pindah sampai aku sembuh ketika itu. Tapi hanya satu kenangan yang tidak muncul sama sekali, kenangan yang di katakan Retha, ketika kami berciuman bahkan tentang perasaanku padanya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • Tentang Kita
  • You're Here, But Not For Me
  • Terjebak Diwaktu Yang Sama
  • Jatuh Cinta Diam-Diam
  • ngger adalah vandyku
  • THIS YOU!!?
  • CINTA DALAM DIAM
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • HATI💔 YANG TERPILIH

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines