We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Dia Amar

Dia Amar

  • WpView
    Reads 3,372
  • WpVote
    Votes 2,503
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadComplete Mon, Aug 5, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Dewala Padma Agnibrata, aku memanggilnya dengan nama "Amar". Dia Amar, dia semestaku. Aku jatuh cinta padanya saat kami bertemu untuk pertama kalinya. Tutur katanya, caranya bicara, caranya menatap, semua tentangnya seakan diciptakan dengan sangat sempurna. Siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati padanya. Namun sayang, sesuatu yang indah seperti dirinya tidak ditakdirkan menjadi milikku. Tidak apa, masanya dia sebentar, tapi dengan kemampuanku, aku akan membuatnya abadi. Untukmu, sesuai janjiku, Kamu abadi, selamanya. [Start: Februari 2024; Finish: Juli 2024]
All Rights Reserved
#35
damai
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Selamat Tinggal Yang Tak Terucap
  • Teruntuk Semesta || Anthony Ginting
  • True Love [SELESAI]
  • Laksana Awan [completed]
  • SALSA'S STORIES (Selesai)
  • ALGAR [END]
  •  Widower's Fat Wife [End]
  • AgniaDiary's

Ini cerita tahun 2023, yang aku selesain 2024 dan sekarang aku rombak lagi ya guysss. °°°°°° Arka berdiri tegak, tatapannya tajam menusuk ke arah gadis yang kini hanya bisa diam membeku. Suaranya dalam, terdengar jelas di antara keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. "Aku bukan pengecut," katanya, penuh penekanan. "Meninggalkan seseorang tanpa memberinya salam perpisahan terlebih dahulu, itu adalah hal paling pengecut yang seorang pria lakukan." Kata-kata itu menghantam gadis di hadapannya seperti ombak besar yang menggulung tanpa ampun. Dia terpaku, bibirnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Jari-jarinya yang semula menggenggam erat ujung bajunya kini mulai melemas, seiring dengan tatapan matanya yang perlahan meredup. Arka menghela napas, menekan emosinya yang hampir meluap. Ini bukan sekadar luapan emosi sesaat-ini adalah luka yang telah ia pendam terlalu lama, menumpuk di hatinya seperti bara yang tak kunjung padam. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang akan pergi tanpa pamit? Seperti seseorang yang melupakan begitu saja?" lanjutnya, nada suaranya kini sedikit bergetar, entah karena amarah atau luka yang terlalu dalam. Gadis itu masih diam. Matanya menatap Arka, tetapi ada ketakutan di sana. Bukan ketakutan karena marahnya Arka, tapi ketakutan bahwa dia benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Hening kembali menyelimuti mereka. Arka menunggu jawaban, tetapi gadis itu tetap membisu. Dan dalam diam itu, hanya ada satu hal yang tersisa-rasa sakit yang tak terkatakan. 23 December 2023

More details
WpActionLinkContent Guidelines