Namaku Langit Biru

Namaku Langit Biru

  • WpView
    Reads 201
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 15, 2024
"Langit, kenapa kamu sangat suka hujan?" Dengan tubuh yang basah kuyup gadis berambut spinggang itu sedikit mengeraskan suaranya agar pemuda di depannya dapat mendengar suaranya. "Hujan itu nikmat dari Tuhan Jann," Pemuda itu ikut meninggikan suaranya berpacu dengan suara air hujan yang bising. "Untuk itu kita harus mensyukuri dan menikmatinya." "Se simpel itu?" Sejenak Langit terdiam karna alsanya menyukai hujan bukanlah semata mata karena alasan yang barusan ia ucapkan, ada alasan lain yang membuat Langit begitu mencintai hujan. "Suara hujan itu bising, kalau aku menangis dengan suara yang keras tidak akan ada yang mendengarkan. Air hujan yang membasahi setiap hal yang ia siram termasuk aku yang menangis di antara hujan, karnanya tidak akan ada orang yang menyadari air mataku. Itulah alasanku menyukai hujan." ••••®®®®•••• *Cover from Canva
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Winter
  • The Rain
  • SEMESTA
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Rain-A
  • ELLGAR (TAMAT)
  • Aku, Kamu dan Hujan

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines