Will The Journey Come To Blissful End?

Will The Journey Come To Blissful End?

  • WpView
    LECTURAS 115
  • WpVote
    Votos 12
  • WpPart
    Partes 17
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, may 5, 2024
Pertanyaan, "Kapan akan menikah?" selalu didapati oleh wanita cantik yang genap berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, Misel Santika Rahayu. Dia sendiri tidak terlalu ambil pusing karena dia belum memiliki pandangan ke arah pernikahan dalam waktu dekat namun ada keinginan untuk menikah hanya untuk perubahan status atau sekedar formalitas. Setelah enam puluh purnama berlalu, Misel diajak bertemu oleh teman dekatnya pada saat berkuliah, Theodore Kanwil. Pada saat bertemu dengan iseng dan spontan, Misel mengajak Theodore untuk menikah. Mendapati ajakan untuk menikah dari seorang yang tidak bertemu dan berkomunikasi dengan dirinya dan hanya mengetahui perkembangan kehidupan melalui akun sosial media, Theodore dengan yakinnya mengiyakan ajakan Misel untuk menikah. Keputusan penerimaan pernikahan tersebut tentunya berlandaskan alasan. Bagi Misel, Theodore adalah lelaki sempurna untuk dinikahi yang akan dijadikan formalitas. Theodore memenuhi kualifikasi lelaki yang akan dinikahinya secara finansial, penampilan dan komunikasi yang baik terjalin di antara keduanya. Kedua, Theodore bekerja di Jakarta yang mana Misel tidak bertemu dengan Theo di satu wilayah sehingga Misel bisa fokus bekerja. Di samping itu, Misel membebaskan Theodore untuk berkencan setelah pernikahan terjadi. Bagi Theodore, menikah merupakan suatu hal yang menyenangkan hati wanita yang paling dicintainya, ibunya yang meragukan dirinya untuk berkeluarga. Melihat peluang diberikan kebebasan untuk berkencan setelah menikah, Theodore ingin mendalami dirinya sendiri terkait dengan preferensi seksualitasnya. Heteroseksual atau bicurious? Entah yang mana dirinya atau hanya konstruksi di kepalanya yang menggambarkan sedemikian. Akankah, "Witing tresno jalaran suko kulino" yang artinya cinta keduanya tumbuh karena kebersamaan tinggal bersama atau akankah berakhir dengan Theodore yang berprofesi sebagai seorang pengacara yang mengurus di meja hijau?
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Prenuptial Agreement
  • Kamu
  • Let's Not Fall In Love (COMPLETED)
  • Sir, How About A Marriage?
  • Now We're Creating Boundaries
  • Mission 21+
  • Derita Istri Kedua Dosen
  • The Baby's Contract✓
  • in verso aeternaria

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido