Life? [Ongoing-Slow Update]

Life? [Ongoing-Slow Update]

  • WpView
    LECTURAS 67
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 8
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, jun 6, 2024
Hastanta Rajendra Lingga. Seorang pemuda yang terkesan dingin dengan orang asing. Namun, jika dirinya sedang berada dengan orang yang dekat dengannya, paling yang bisa ia percayai, yang bisa membuatnya merasakan semuanya. Itu seperti dirinya yang asli karena sebenarnya, sisi yang sering ia tunjukkan kepada orang lain itu hanya sebuah bayangan. Siapa sangka orang seperti dirinya yang dulu Ekstrovert menjadi Introvert, bukan tanpa sebab melainkan keinginannya sendiri. · · ─────── ·𖥸· ─────── · · 📌Toxic area 📌Adegan yang tidak baik (tidak banyak, hanya mengingatkan untuk bijak membaca) 📌Hubungan masih normal dan jelas. Tidak ada yang namanya hubungan terlarang • ~ • 📍Cerita asli naluri buatan saya (don't copy!) ✧ ▬▭▬ ▬▭▬ ✦✧✦ ▬▭▬ ▬▭▬ ✧ 📄Nt.Novel: Second book Creator by: Nyl_52.7 (@Unarea)
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Petikan Lingga
  • My Guardian Angel [MGA]
  • Mental Disease
  • Transmigrasi menjadi istri presma!?(TAMAT)
  • HEY!! MR. COOL?! [END]
  • My Beloved Enemy [Segera Terbit]
  • Mahkota [The Circle Series #1]
  • Kathréftis {καθρέφτης}|| End✓

Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido