Di dalam gedung teater yang besar, seluruh penonton menanti beludru terbuka. Kemudian, seorang narator berpenampilan badut masuk ke tengah panggung dan memberikan hormat. Narator itu mengetes mik. Semuanya lancar. Dia mulai berbica.
Narator: Selamat datang di panggung kehidupan. Malam ini, saya dan rekan-rekan membawakan kisah Hei, Awan! Ouh, wah! Kisah ini sungguh unik! Baiklah, tanpa berlama-lama lagi. Tuan dan Nyonya, saksikanlah drama kehidupan Maulana Virgiawan Putra!
(Suara tepuk tangan)
(Iringan musik)
Narator ke tepi, dia duduk di kursi di samping panggung.
Narator: Wah, kursi dan meja. Ada apa ini? Mana pemerannya?
Penonton bersorak. Kemudian, lampu menyorot ke samping beludru.
Narator: Hei, Awan! Silakan masuk ke panggung. Penonton menunggumu!
Pemeran itu malu. Dia melambaikan tangan ke penonton dari tempatnya. Penonton bersorak.
Narator: Awan! Ayo, berikan penampilan terbaikmu!
Pemeran itu mengangguk. Lalu dia berjalan pelahan-lahan dengan posisi tangan mengepal. Dia mendekati kursi dan meja.
Narator: Ah, baik. Tuan dan Nyonya, dia memang pemalu. Jangan khawatir. Dia pemeran yang handal. Oh, lihat aksinya.
Pemeran itu jongkok di tempat bantalan kursi seraya memakan roti dan pemeran lain datang.
Narator: Ouh, kejar dia! Dasar tidak tau diri!
Pemeran lain itu langsung mengejar pemeran pertama, dia lari terbirit-birit. Penonton bersorak dan tertawa.
Narator: Pembuka dikemas dengan sesuatu yang mengangumkan! Semakin dilihat, semakin takjub! Jangan sampai melewatkan adegan yang terbaik. Jangan sampai menyesal.
Narator: Baiklah, Tuan dan Nyonya, saya harap Anda sekalian tidak kabur dari kursi. Silakan duduk dan nikmati penampilan ini! Tepuk tangan untuk pemeran!
(Penonton bertepuk tangan)
Narator: Awan itu lucu! Anda harus melihatnya lebih lama lagi! Panggung ini sudah didesain sedemikian rupa untuk Awan. Jadi, nikmati dan silakan berekspresi!
(Penonton bertepuk tangan)