Senja Untuk Ayu

Senja Untuk Ayu

  • WpView
    Dibaca 398
  • WpVote
    Vote 94
  • WpPart
    Bab 18
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Jun 20, 2026
WpInfo
Fiksi
Fiksi Sejarah
Sebuah perjalanan hidup seorang gadis yang berusaha mendapatkan kasih sayang dari ayah dan kedua saudaranya. Memiliki teman dan sosok laki-laki yang istimewa seakan memberi warna dalam kehidupannya. Senja seperti apa yang akan dia dapatkan? Akankah indah jingganya matahari atau awan kelam yang suram menyambut malam.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#437
impian
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Memories in Moon
  • Fajar & Senja
  • Sejuta Senja (Versi Revisi)
  • Tanyakan Namaku Pada Senja
  • Laut dan Senja (TAMAT)
  • Senja dan Jingga
  • LANGIT SENJA  (End)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan