Huis
  • WpView
    Reads 161
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 11, 2024
Benar adanya jika rumah tidak harus berbentuk bangunan. Ini yang dirasakan Zeina; Gadis 21 tahun yang ditakdirkan untuk menjadi anak pertama. Tentu saja takdir itu bukan sesuatu yang mudah. Perlu mengubur banyak mimpi demi mewujudkan mimpi sang adik, dituntut untuk menjadi sempurna sampai mereka lupa jika anak pertama pun hanya manusia biasa. Rasanya berat untuk Zeina tanggung sendiri. Namun, pada siapa dia harus bercerita? Rumah yang katanya hangat itu menjadi tempat menakutkan bagi Zeina. Hingga Zeina bertemu dengan laki-laki yang memberikan 'rumah pulang' untuknya. Membuat Zeina kembali memiliki tujuan untuk pulang. "Sejauh apapun langkahnya, jangan lupa pulang, ya, Zei. Sebab di dalamnya ada seseorang yang selalu menunggu." -Arion Zefar. "Katanya rumah gak harus berbentuk bangunan, sama seperti manusia aneh di depanku ini, dia menjadi rumah nyaman tempat aku berlindung." -Zeina Gadis Ardashir.
All Rights Reserved
#78
anakpertama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Desir Arah
  • LOVE YOURSELF(Hiatus)
  • REGRET [END]
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • ARAKHA
  • [ ✓ ] Fathir : Ada Tapi Tak Di Anggap
  • Apa Itu rumah (SUDAH TERBIT)
  • RIRI NATARI [END]
  • About Naskala [on going]

Jauh sebelum lintang bintang memudar Dia pernah berpikir ke arah mana kaki melangkah Dengan rasa lelah memuncah Tertatih-tatih kehilangan arah Lalu suatu ketika dipenutup oranye cerah Tangannya mengepal menemukan rumah Yang tak pernah menjadi pernah Dan dia merengkuh kesah Pelangi pernah bilang bahwa dia manusia paling pelupa mengenai jalan pulang, sedangkan Haysel pernah bilang bahwa ia hanya anak cowok yang tidak punya jalan pulang. Dari sebalik ruang gelap kamar sunyi milik Russel, cowok itu bergumam sendu. Ia bingung, bagaimana caranya mengumpulkan keberanian untuk pulang? "Belum pulang?" "Sebentar lagi," jawabnya merengkah senyum cerah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines