Dahlia
  • WpView
    Reads 5,482
  • WpVote
    Votes 1,529
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 6, 2026
"Permisi, Mba, tahu jalan ke kafenya, enggak?" Laki-laki itu bertanya kepada Danah. Ia menyeringai. Jalan ke kafe katanya? Danah mengangkat satu alisnya. "Lah, ke situ, kan, Mas?" Danah bertanya balik dan menunjuk kafe yang tidak lebih dari empat meter di hadapan mereka. Laki-laki di hadapan Danah mengangguk. "Bener, tuh, Mba," katanya sembari maju selangkah lebih dekat dengan Danah. Gadis itu reflek mundur selangkah. "Kalo jalan ke hati Mba, tahu, enggak?" Kali ini, laki-laki itu tersenyum lebih lebar. Hah? Danah sontak langsung merasa jijik dengan laki-laki di hadapannya ini. Danah mulai menggerakan bola matanya dari atas sampai ke bawah untuk melihat penampilan laki-laki di hadapannya ini. Rambut hitam pendek, sepasang mata hitam yang tajam, hidung mancung, kulit kuning langsat, anting hitam yang tertaut di kedua telinganya, kaus hitam, kalung besi, celana jeans, dan sepatu tali dengan merek yang bisa dibilang cukup mahal. Idih, amit-amit. Kalimat itu hampir terucap dari bibir Danah.
All Rights Reserved
#24
fisip
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Blonde & The Cold Heart [TERBIT]
  • AMOUR (Mr. Pradipta)
  • Does love exist : short story
  • COFFEE
  • Langkah Seiring (END+EXTRA PART)
  • Mendadak Ipar
  • Oddly Coupley (Complete)
  • Informed Consent
  • CACA (TAMAT)
  • Perpindahan Dimensi Sang Penulis

[Sudah Terbit] ___ "Aku hanya ingin pulang ke rumah yang hangat, bukan tanah yang dingin." --- ⚠️WARNING Don't copy my story, please! Nulis cerita itu pakai waktu, tenaga, dan otak. Kalau anda cuma bisa copy paste, itu bukan kreativitas, itu cuma malas yang dibungkus berani. Hargai karya orang. Jangan ambil yang bukan milikmu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines