Aisha bukan Aisyah

Aisha bukan Aisyah

  • WpView
    Membaca 9,506
  • WpVote
    Vote 1,088
  • WpPart
    Bab 22
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Okt 2, 2024
"Tolong jaga keponakanku, Ray. Dia yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan tragis. Ada banyak hal yang mesti gue urus dan selesaikan. Suatu saat kalau urusan gue sudah selesai, gue akan jemput dia." "Jangan gila, Fan. Gue masih kuliah. Gimana mau ngurusnya." "Gue bakal ngomong sama ibumu. Hanya keluarga lo yang saat ini gue percaya." Wajah memelas Irfan dan tatapan kosong si gadis kecil, membuat Rayhan mengangguk. Rayhan tidak tahu, banyak hal yang berubah di hidupnya sejak kedatangan gadis 5th itu. Yang ada dalam benaknya adalah membantu sahabatnya yang penampilannya belum pernah separah ini. Hingga akhirnya keadaan memaksa Rayhan menikahi Aisha.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#465
sholeh
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Tentang Kamu, Nadia
  • Gus untuk Anisa
  • PENANTIAN (Sudah Terbit)✅
  • Ana Uhibbuka Fillah
  • Kekasih Yang Tertunda
  • Ketika Cinta Mulai Menyapa
  • Kembali Jatuh Cinta
  • Perjalanan Kisah Cinta Afia

Sejak sekolah dasar, Nadia adalah pusat dunia bagi Raditya Juna Mahesa. Mereka adalah tetangga yang begitu lengket satu sama lain. Tapi tiba-tiba di suatu hari Radit berubah, dia jadi cuek dan seolah Nadia bukan apa-apa baginya lagi. Jarak pun membentang jauh di antara keduanya. Kata Nadia yang kala itu marah pada Radit karena dia berubah, "Radit jahat! Mulai sekarang kita bukan teman lagi!' Semenjak itu, mereka hanya orang asing. Hingga suatu hari akan ada perjodohan dalam dua keluarga itu. Antara Nadia dan Priyandaru Samudera__kakaknya Radit. "Hai, calon adik ipar!" sapa Nadia yang membuka pintu rumahnya di suatu pagi pada tamunya. Radit tetap cuek tanpa ekspresi meski Nadia terdengar mengoloknya. "Seperti mendung yang belum tentu turun hujan. Calon belum tentu jadi beneran. Bisa aja, aku yang nikahin kamu di hari yang sudah ditentukan." "Eng-gak mung-kin!" "Maka akan aku buat menjadi mungkin."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan