SEGITIGA BERLIKU

SEGITIGA BERLIKU

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 7, 2024
Bagaimana jika dua anak manusia yang berhasrat menyatu, tapi tak memiliki restu? Bukan restu orang tua, melainkan restu semesta dan segala yang ada didalamnya. Seperti takdirku yang menjadi bulan, tidak akan bisa aku berlari untuk memeluk matahari, dan tidak bisa juga bagiku mengubah takdir untuk menghindari sang bumi. "Pada akhirnya aku juga akan tetap terjatuh pada orang yang sama. Tanpa tanda dan tanpa tanya" "Tentang aku, kamu dan waktu"
All Rights Reserved
#244
bima
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Hai, Angkasa! [COMPLETED]
  • [3] ALONE [END] ✓
  • My Beloved Enemy
  • Rewrite My Heart 2 [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • SELENOPHILE : RED MOONBOUND [TERBIT]
  • Bulan (END)
  • King Bullying [TELAH TERBIT]
  • Black Rose [ End ]
  • GARIS TAKDIR

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines