Devil's wife

Devil's wife

  • WpView
    Reads 69,723
  • WpVote
    Votes 2,357
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadOngoing2h 49m
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 26, 2025
Bagaimana rasanya dihukum tanpa diketahui sebabnya? Itulah yang dirasai oleh Nur Luna Charrisa. Malang nasib gadis itu apabila dia dikhianati oleh rakan karib sendiri malah diperkosa dan diseksa oleh seorang yang digelar suami. Suami yang sepatutnya menyayangi dan melindungi Luna, menjadi penyebab kepada derita yang tiada penghujung. "Apa salah saya pada awak? Kenapa awak sanggup buat saya macam ini?" - Nur Luna Charrisa "Salah kau adalah lahir dari rahim betina tak guna tu! Aku akan pastikan kau rasa apa yang mama aku rasa dulu" - Tengku Aisy Lutfi Dendam. Ya, kerana dendam yang satu itu, kerana janjinya kepada arwah mama, Tengku Aisy Lutfi nekad untuk memperisterikan Luna. Malah, tiada sekelumit pun rasa sayang dan simpati terhadap isteri yang sepatutnya Aisy lindungi itu. Apakah yang sebenarnya berlaku? Dendam apakah yang dimaksudkan Aisy? Benarkah kesalahan terletak pada keluarga Luna? Nanti kan........ WARNING ⚠️ BACAAN DEWASA ‼️ Cerita ini banyak berunsurkan rogol, keganasan rumah tangga, dendam yang tidak patut dicontohi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • Dia Selamat, Tapi Kenapa Dia Tak Datang Cari Aku?
  • Istri Kedua
  • Tania
  • Home Is You
  • My Princess Is My Sunshine (Slow Update Ya)

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines