NISKALA
"Di atas meja putar ini, aku belajar bahwa cinta tak selamanya harus berbentuk deklarasi, terkadang, ia cukup menjadi sunyi yang membentuk diri."
Aku adalah sekumpulan diksi yang terperangkap dalam jemari yang berlumur tanah liat. Bagiku, keramik adalah bahasa paling jujur.
Aku menghabiskan banyak waktu untuk, mengotori jemariku dengan tanah liat yang dingin.
Gumpalan tanah kasar akan pelan-pelan berubah bentuk di bawah tekanan telapak tanganku menjadi sebuah keramik. Kadang, jika sedang tidak ingin menyentuh tanah, aku akan duduk diam dengan buku sastra di pangkuan atau membiarkan kuas meliuk di atas kanvas, mencoba menangkap warna langit yang tidak pernah sama setiap harinya. Bagiku, itu adalah cara paling jujur untuk menghabiskan waktu.
Lalu ada dia. Dia yang ramah pada semesta, namun paling ahli menjaili konsentrasiku dengan lelucon-lelucon kecilnya yang menyebalkan sekaligus kurindu.
Kami berteman, dan aku ingin waktu berhenti di situ saja.
Bagiku, mengungkapkan perasaan adalah perjudian yang terlalu mahal.
Aku lebih memilih memendam rindu secara filosofis dalam setiap lengkungan piring yang kubuat, daripada harus melihat punggungnya menjauh karena sebuah pengakuan.
Biarlah rasa ini tetap menjadi niskala-abstrak, tak berwujud, namun nyata berdenyut.
Sebab aku lebih takut kehilangan sahabatku, daripada harus selamanya memeluk sepi sebagai seorang pemuja rahasia.
•
•
ᥱ᥎ᥱrᥡ ⍴іᥴ𝗍ᥙrᥱ һᥱrᥱ іs 𝖿r᥆m ⍴іᥒ𝗍rᥱs𝗍!!!
All Rights Reserved