Senandika Laut

Senandika Laut

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 1, 2024
Sudahlah, akhirnya semua berakhir seperti ini. Ironisnya, Laut Biru yang ceria dan teladan berakhir tragis. Ironisnya, Laut sang 'Pelajar Terbaik' berakhir ditempat yang memalukan. Ironisnya, Laut tak ada harapan. Tak lagi ada harapan. Mimpi, kembalikan mimpi-mimpinya. Masa muda, tolong kembalikan semuanya. Keluarga, Galih dan Nadhiva, semuanya. Tolong. Laut Biru Andala, kini tenggelam dalam dirinya sendiri. "Pada akhirnya, semuanya hilang. Tenggelam di laut dalam, tergerus ombak yang tenang, dihancurkan oleh tekanan yang besar, memang apa yang menyenangkan dari laut? makna apa yang beralas? jika didalamnya dipenuhi misteri dan tekanan yang menyiksa. Aku berharap, semua teman-temanku bahagia. Seperti angin segar dimusim kemarau, aku bisa mendapatkan sehabat yang terbaik seperti Galih, Nadhiva, Lily dan yang lainnya. Tak perlu khawatir, kepergianku tak lebih dari seperti seorang penulis yang menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Selamat tinggal, Dikara Ali, Ibu, dan semuanya."
All Rights Reserved
#195
senandika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DEMI APAPUN, BIRU NYERAH - NA JAEMIN [END]
  • Deep Blue (END)
  • Regards, Natashira (END)
  • Eliinaa
  • dimana janji tersebut
  • Thank You For Everything [BoelxYaya]
  • Wrongful Encounter [COMPLETED]
  • Alamanda (Telah Terbit)
  • Maaf' (Revisi)

"Sudah Temaram. Kini di tulis sebuah Narasi tak beraturan oleh Biru. Kepada Ayah, Bunda dan mas Dipta." Bunda yang sudah lebih dulu mendahului kita, Ayah yang menjelaskan rasa kasih sayangnya lewat pukulan, dan mas Dipta yang selalu di sini menemani Biru hingga di penghujung nafas Biru. Kini sudah Biru temui Bunda kembali di dunia yang sama, pengobat rasa rindu. Kini kembali Biru rasakan pelukan yang sekian lamanya tidak Biru rasakan. Mas Dipta, rumah ke-dua Biru. Rumah itu kini berdebu, kosong dan tak terawat. Biru tinggalkan rumah itu dengan sedikit rasa enggan. Ayah, kini dia menjelaskan kasih sayangnya itu dengan pelukan, walau sekedar batu nisan. "Jika rindu temui dan peluk Biru, walau hanya sekedar batu nisan yang bisa di peluk." Copyright -JLilyaboo, 2023

More details
WpActionLinkContent Guidelines