Senandika Laut

Senandika Laut

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 1, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Sudahlah, akhirnya semua berakhir seperti ini. Ironisnya, Laut Biru yang ceria dan teladan berakhir tragis. Ironisnya, Laut sang 'Pelajar Terbaik' berakhir ditempat yang memalukan. Ironisnya, Laut tak ada harapan. Tak lagi ada harapan. Mimpi, kembalikan mimpi-mimpinya. Masa muda, tolong kembalikan semuanya. Keluarga, Galih dan Nadhiva, semuanya. Tolong. Laut Biru Andala, kini tenggelam dalam dirinya sendiri. "Pada akhirnya, semuanya hilang. Tenggelam di laut dalam, tergerus ombak yang tenang, dihancurkan oleh tekanan yang besar, memang apa yang menyenangkan dari laut? makna apa yang beralas? jika didalamnya dipenuhi misteri dan tekanan yang menyiksa. Aku berharap, semua teman-temanku bahagia. Seperti angin segar dimusim kemarau, aku bisa mendapatkan sehabat yang terbaik seperti Galih, Nadhiva, Lily dan yang lainnya. Tak perlu khawatir, kepergianku tak lebih dari seperti seorang penulis yang menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Selamat tinggal, Dikara Ali, Ibu, dan semuanya."
All Rights Reserved
#33
angststory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Wrongful Encounter [COMPLETED]
  • Deep Blue (END)
  • Thank You For Everything [BoelxYaya]
  • dimana janji tersebut
  • Welcome Home, Saga!
  • Dara Ajudan
  • Maaf' (Revisi)
  • Bukan Kita D.A.N
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines