
Dalam jangkauan Nathan dan pengaruh alkohol sialan ini dia tidak bisa melakukan apapun selain menikmati setiap hal yang dilakukan pria didepannya. Dia tidak ingin bercinta dengan sahabatnya sendiri, itu rule-nya. Tapi malam ini sepertinya mustahil, karena cowok didepannya ini sangat menyebalkan. Nathan dan apa yang dilakukannya adalah dua hal yang kontradiktif. Sama seperti saat pria ini mengatakan akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan, itu juga tidak sepenuhnya benar. Apa-apaan dia sok jagoan begitu? Memang apa sih yang sudah dia lakukan? Yah, baginya Nathan adalah pembohong besar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak bisa dipercaya, dan setiap hal yang dia lakukan juga tidak pernah tulus. Sama seperti hari itu. "Ini semua salahku Ma, dan aku yang akan tanggung jawab." Belum selesai dibuat heran dengan pernyataan tidak masuk akal pria ini didepan Mamanya, Nathan mengajaknya pindah ke Kalimantan. Dan sebagai sahabat yang budiman, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Karena sebenarnya dia juga butuh tempat untuk 'sembunyi' dari seseorang. Dia juga tidak berminat terlibat dengan urusan asmara pria ini, baginya cinta itu omong kosong. Sama seperti bualan teman-teman prianya. Dirinya hanya ingin bersenang-senang tanpa menggunakan hati. "Help me Van, plis" serunya pelan tepat di dekat telinga. "Sure, i'll help you darling." ***All Rights Reserved
1 part