PROLOG
Tiga tahun lalu, meja makan panjang itu diselimuti keheningan kaku. Aroma truffle dan anggur merah yang mewah terasa menyesakkan, tidak mampu menutupi ketegangan yang menggantung. Di ujung meja, Tuan Alden dan Nyonya Alden duduk tegak, memancarkan aura dominasi yang sama. Di sisi kanan, Keluarga Aura - dengan Nyonya Aura yang anggun dan Tuan Aura yang berwibawa - menanti dengan sabar.
Atlas Alden, duduk tegap, namun ada ketidaksabaran kentara di bahunya yang lebar. Matanya yang gelap memancarkan kilatan tajam yang selalu membuat siapa pun bergidik. Di sampingnya, Rachel tersenyum manis, memegang lengan Atlas erat, seolah ingin menegaskan klaimnya. Ia memang cantik, dengan rambut pirang terurai dan bibir penuh yang menarik perhatian.
"Jadi," Tuan Alden membuka suara, "Kita semua sudah tahu maksud pertemuan ini. Pertunangan antara Alden dan Aura. Sebuah langkah strategis yang menguntungkan kedua belah pihak."
Nyonya Aura mengangguk. "Kami percaya Daisy adalah pilihan terbaik untuk putra sulung Anda, Atlas."
"Maaf," suara bariton Atlas memecah keheningan, dingin dan tanpa cela, "Aku tidak bisa menerima perjodohan ini."
"Aku sudah memiliki kekasih," lanjut Atlas, tanpa mengalihkan pandangan dari Daisy. "Dan aku hanya akan menikahi wanita yang aku cintai. Rachel adalah wanita itu." Ia menarik Rachel mendekat, mencium puncak kepalanya dengan sebuah gestur yang terasa lebih seperti penegasan kepemilikan daripada kasih sayang.
Daisy.... Tidak ada gejolak emosi di wajahnya. Hanya keheningan yang dalam, seolah ia sudah mengantisipasi penolakan ini. Mata cokelatnya bertemu dengan mata gelap Atlas. Hanya sepersekian detik, namun terasa seperti keabadian. Ada sesuatu yang berkelebat di sana. Sesuatu yang dingin, tajam, dan... familiar. Seolah ada benang tak kasat mata yang baru saja mengencang di antara mereka, di tengah penolakan terang-terangan itu.
Todos os Direitos Reservados