"Rinan, kapan kamu menjemputku?" Dalam adorasi penuh lara, Juanda berpijak di atas kursi menggenggam tali tambang berbahan nilon sepanjang 50 meter yang belum disimpul. Kepalanya pening sekali, daksanya telah berdiri lunglai tiada lagi tenaga namun tetap ia paksa untuk berdiri. "Bapak, jangan mati." Suara anak laki-laki berusia 13 tahun memecah keheningan, mengembalikan atma yang melayang entah ke mana. Sosok Danu berdiri di ambang pintu, sepasang netra polosnya itu menatapnya pilu. Lantaran hal itu Juanda berdeham, "Siapa yang mau mati, Nu." Mengabaikan tatapan polos Danu, kemudian Juanda mengikat tambang di antara kedua tiang yang saling berjauhan, hendak digunakan untuk jemuran. Sembari sibuk mengikat simpul, Juanda merutuki dirinya sendiri, atas kebodohan tak bertanggung jawab yang akan ia lakukan andai saja Danu tak memergokinya. Selamat datang di kisah Juanda, Danu, dan Aksa!All Rights Reserved
1 part