Wynorrific Ortus

Wynorrific Ortus

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 8, 2024
Sepasang mata merah, dengan bulu mata tebal yang panjang berwarna hitam. Tatapannya sayu nan menenangkan, namun begitu juga begitu dingin dan kosong. Pemuda itu tersenyum kepadanya menghela nafas panjang. "Kau ingat apa yang kukatakan kemarin?" Pemuda itu bertanya lembut. Pemilik mata merah itu mengangguk pelan. Membuat pemuda itu tersenyum lega. Ia menolehkan kepalanya, membuat moncong pistol dengan peredam suara itu berada tepat di tengah keningnya. "Jadikan itu pesan terakhirku." Suaranya menggema di terowongan yang gelap. Lampu di dekat mereka berkedip, begitu pula sepasang mata itu. Pemiliknya menahan nafas, seolah menolak udara sejuk musim gugur masuk ke paru-parunya, membawa serbuk kenangan bulan November melewati tenggorokannya. Ia menatap pemuda di hadapannya lamat-lamat, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun gadis itu hanya menghela nafas dan mengangguk pelan. Sebelum akhirnya berkata dengan suaranya yang berat, seolah berton-ton batu tengah menimpanya. "Noted."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TIME will TELL {On Going}
  • C
  • Impossible Wish
  • Haruskah Mati? √PART LENGKAP [TERBIT]
  • Unraveled
  • FLEUR ✓
  • ...
  • Complete (END)
  • 𝐓𝐑𝐀𝐏𝐏𝐄𝐃 || 𝐎𝐆

"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡

More details
WpActionLinkContent Guidelines