Matematika Bunglon

Matematika Bunglon

  • WpView
    Reads 67
  • WpVote
    Votes 39
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 17, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Panggil aja Kensa!" Ya, itu namanya. Tetangga baruku yang super supel katanya. Aku tidak peduli toh bukan urusanku juga. Tapi semakin sering bertemu membuatku sedikit penasaran dengannya. "Kenapa Chameleon?" tanyaku. "Chameleon kan bunglon," jelasnya. Bodohnya aku justru berkata, "Sejak kapan bunglon ganti nama?" Wah, kenapa dihadapannya aku selalu sebodoh itu? Ayolah Adity itu nama inggris si bunglon. Aku malu-teramat malu. "Bunglon kan beradaptasi dengan baik, maksudnya ya masuk aja kemana-mana juga. Jadi mudah bersosialisasi gitu." Dia berusaha menjelaskan agar aku memahaminya. tapi tetap saja, kenapa harus bunglon? Ah, lupa introduce my self. namaku Adity Atmaranti. Kalian bisa memanggilku Cinderella real life. kenapa begitu? emm.. Aku pernah berpikir bahwa aku mirip dengannya. Mungkin Cinderella itu adalah anak pertama, makanya dia melakukan semua pekerjaan rumah dan memikul beban keluarga. Aku selalu membayangkan akan ada pangeran yang datang dengan sepatu kacaku. Tapi itu hanya anganku, hubungan percintaan terlalu rumit bagiku. "Matematika itu emang rumit tapi menjanjikan kepastian, kayak aku." Itu satu dari sekian banyak kata gombal yang keluar dari mulut manis Kensa Maasyir. Namun, semakin mengenalnya semakin membuatku penasaran. Rasanya seperti mengerjakan soal sulit, setelah berhasil mengetahui jawabannya membuatku percaya diri dan antusias dengan soal berikutnya. Dia terlihat rumit tapi ternyata sederhana. Entah dengan rumus apa dia memikatku karena kini kupikir aku terpikat olehnya. Ya, kepada bunglon sialan ini.
All Rights Reserved
#209
wanita
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stay (Away)
  • Because I'm Stupid (End)
  • Komedi cinta [Tahap Revisi]
  • Lelaki Pilihan Ayah & Lekaki Yg Mengagumi Ku [END]✓✓
  • Don't call it love!
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • GILANG ABRAHAM
  • Pretty Careless
  • IVENDER
  • Three Targeted Girls!!

⚠️Cerita Mengandung Bawang⚠️ "Lo maunya apa sih?!" Prilly mengeluarkan seringai menggodanya. Tangannya terulur menuju kerah seragam Ali, ia menarik kerah Ali hingga tubuh Ali terhempas mendekat ke arahnya. Lantas ia berbisik dengan suara seraknya, "Lo tanya mau gue? Mau gue itu cuma hati lo." "Murahan," ujar Ali sarkastik sambil menarik tubuhnya menjauh. Prilly masih mempertahankan seringaiannya. "Gue gak bakal semurahan ini kalo lo gak jual mahal sama gue," balas Prilly berusaha memepetkan tubuhnya kepada Ali. Hal itu membuat Ali berdengus jijik, enggan luluh dengan sikap Prilly. "Cih, dasar jalang!" Prilly menatap tepat di bola mata Ali, ia memonyongkan bibirnya dan memajukan dirinya seperti ingin mencium Ali. Tetapi, hal itu tentu hanya sebuah gertakan saja. "Gue gak bakal jadi jalang, kalo lo gak nolak cinta gue!" Prilly berteriak kencang tanpa memikirkan harga dirinya lagi. "Tapi, gue udah punya pacar!" Ali berdesis sembari menatap tajam Prilly. "Putusin pacar lo, terus jadian sama gue. Gampang 'kan?" Ucapan enteng Prilly membuat emosi Ali tersulut. "Lo gak cinta sama gue tapi lo terobsesi buat milikin gue. Dan itu buat lo gila!" Prilly berdecih, "Iya. Gue gila. Dan itu semua, karena lo!" Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Prilly untuk mengejar Ali dengan cara-cara murahan, dan hasilnya ia selalu ditolak mentah-mentah oleh Ali. Ini semua berawal dari Prilly yang sering mengumbar gombalan kepada laki-laki di kelasnya dan Ali adalah salah satunya, dan itu semua berakhir pada perasaan semu yang nyata. Awalnya Ali tidak pernah menganggap serius gombalan Prilly, tetapi Prilly mulai melakukan tingkah konyol, seperti saat Prilly mengumumkan kepada seluruh teman sekelasnya bahwa mereka resmi berpacaran. Hal itu membuat Ali muak dan membenci Prilly. Oleh karena tingkah murahan Prilly, Ali tidak ingin berinteraksi selayaknya teman sekelas kepada Prilly. Seringkali Ali menyuruh Prilly menjauh, namun selalu dibantah dan Prilly memilih untuk b

More details
WpActionLinkContent Guidelines