Tinta, Kanvas, dan Keabadian

Tinta, Kanvas, dan Keabadian

  • WpView
    Reads 47
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 18, 2024
Hannazera Amerta, seorang anak perempuan pertama yang menjadi pundak untuk keluarga nya. Sosok yang dikenal ceria, dan urakan. Hidup di keluarga yang biasa biasa saja, tidak broken home, tidak juga harmonis. Bertemunya dia dengan seseorang lelaki yang akan menjadi salah satu tinta abadi untuknya adalah awal kebahagiaan nya. Namun, semua itu akan kandas karena keegoisan nya. Gadis yang sedari awal menanggung permasalahan nya sendiri, lalu di pertemukan dengan penghuni hati yang mampu meringankan permasalahan nya pun akan kembali menanggung permasalahan nya sendiri. Gadis yang tidak terbiasa untuk kemana mana sendiri, kini harus terbiasa melakukan aktifitas nya sendiri. "Makasih ya, udah mau terima aku apa adanya. Baik buruknya aku udah kamu terima. Rasanya seneng banget kenal kamu." Ucapnya kepada seorang lelaki yang ia percaya. "Anytime sayang, jangan sungkan sungkan buat cerita ke aku ya. Anggap aku rumah, okey?" Jawab lelaki itu. Namun yang namanya rumah tidak selamanya akan menjadi rumah. Seperti umumnya kehidupan, rumah akan rusak ketika lama tidak di huni. Rumah akan sunyi ketika lama tak dihuni. Dan rumah pun tidak akan bisa di perbaiki jika sudah terlanjur di hancurkan. Bisa, namun itu sebuah kemustahilan yang mungkin mustahil untuk di wujudkan.
All Rights Reserved
#15
kisahpersahabatan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • LOVE YOURSELF(Hiatus)
  • Beri aku kesempatan sekali saja
  • About Naskala [on going]
  • Janji yang Menemukan Rumah
  • Story of My Life With You
  • Desir Arah
  • S T E V E
  • GRIZLEN {On Going}

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines