"Cinta beda agama"
Mungkin kalian tak asing dengan kata itu?
Yap, ini kisah cinta beda agama
Seorang gadis bernama "Uzlifa Ocean Pratista" Yang jatuh cinta pada seorang pria yang berbeda keyakinan dengannya, bernama "Samudra Alfahrizy Axelle".
Berawal dari tak sengaja bertemu, hingga saling jatuh cinta
Namun......akan kah cinta mereka semulus itu?
___________________________________________
"Semesta hanya mengizinkan kita bertemu, bukan bersatu" Ucap Uzlifa
"Jika begitu, carilah lelaki lain yang lebih dariku, seperti yang kau katakan, semesta hanya mempertemukan kita, bukan mempersatukan kita" Jawab Samudra
___________________________________________
"Zil, jangan egois ya? gue juga butuh bahagia." ucap T****
"gue? egois? lo yang egois sa, ngambil cowok gue demi kebahagiaan diri sendiri" jawab Zilfa tak terima dengan suara bergetar, menahan tangisannya
"kalau pun gue ngga ambil, emang lo sama samudra bisa bersatu? inget, tembok kalian tinggi" ucap T****
perkataan T**** membuat hati zilfa terasa di tusuk berkali kali oleh sebuah pedang yang sangat tajam, sakit menyakitkan, walaupun....memang kenyataannya seperti itu
Zilfa yang tak sanggup pun mulai menangis, namun Samudra hanya menatap, tak seperti dulu yang mencoba menenangkan Zilfa
___________________________________________
Hi hiii👋🏻👋🏻
Apa kabar para readers😻😻
Untuk sementara waktu, 'always with you' aku ga up dulu yaa😞😞, aku pindah ke cerita ini
SEMOGAA SUKAAA
HAPPY READINGG GAYSSS💐💐💐
⚠️⚠️NAMA DI CERITA INI DISAMARKAN, YANG SAYA GUNAKAN BUKAN LAH NAMA ASLI⚠️⚠️
ARIGATOUUU❤️❤️
start: 22 Maret 2024
end:-
Enemies in Flames - dua musuh yang terjebak dalam permainan api perasaan.
Dalam dunia yang penuh aturan, mereka adalah pengecualian.
Arya Mohan Suryanandika adalah bad boy yang dikenal karena tatapan tajamnya, sikapnya yang dingin, dan keahliannya dalam membuat masalah. Baginya, hidup adalah tentang kesenangan dan kebebasan, tanpa peduli siapa yang ia sakiti dalam prosesnya.
Aqeela Aza Calista, gadis yang juga jauh dari kata lembut dan manis. Ia berapi-api, keras kepala, dan lebih suka menyelesaikan masalahnya dengan pukulan daripada kata-kata. Tak ada satu pun orang yang berani macam-macam dengannya.
Mereka berdua seperti dua magnet dengan kutub yang sama. Selalu bertolak belakang, selalu bentrok.
Tapi siapa sangka, kebencian yang mereka pupuk begitu lama bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit?
Sesuatu yang bahkan Aqeela sendiri berusaha keras untuk menolak.