Story cover for Breathing || Renjun (00L) by daehwilee3to3
Breathing || Renjun (00L)
  • WpView
    LECTURAS 397
  • WpVote
    Votos 228
  • WpPart
    Partes 4
  • WpView
    LECTURAS 397
  • WpVote
    Votos 228
  • WpPart
    Partes 4
Continúa, Has publicado mar 23, 2024
Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan?
Bukan karena sendirian sejak awal, justru karena mempunyai ikatan. Bagaimana kehilangan semua ikatan itu akan terasa sangat menyakitkan.

Terlebih manusia tidak akan pernah saling memahami kecuali mereka pernah mengalami penderitaan yang sama. Jadi jangan pernah berlagak kamu tahu apa yang aku rasakan, itu memuakkan. Ah, satu lagi jangan pernah mencegahku melakukan sesuatu.

||

"Seberapa keraspun aku berusaha melupakan masa itu,nyatanya  perasaanku tak bisa berbohong. Bagaimana setiap ingatan itu muncul semakin membuatku membenci dunia yang fana ini,membenci setiap takdir yang kualami, dan berakhir membenci diriku sendiri."

"Aku tidak akan meghakimimu,akupun tak tahu sesakit apa yang kamu rasakan. Aku sering bertanya pada diri sendiri,apa hanya aku yang semenderita ini? Namun kamu mengajarkanku, tak ada manusia yang hidup tanpa luka,sekecil apapun itu."

Raksa memandang langit malam bertabur bintang itu, kemudian melirik perempuan di sampingnya dan tersenyum manis.

Perempuan itupun tersenyum sambil memandang langit malam. " Sa,kamu pernah bilang kenapa manusia nggak bisa seikhlas langit yang rela awan gelap menutupinya lalu menurunkan hujan tanpa pernah menjanjikan pelangi datang?. Sampai saat ini aku nggak pernah menemukan jawabannya, apa kamu sudah menemukan jawabannya Sa?"
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Breathing || Renjun (00L) a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#402ongoing
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Renjana [COMPLETED] de skyaksa
36 partes Concluida
Pada malam paling temaram yang pernah seorang anak jumpai adalah kehilangan sepenggal bait kehangatan yang sepatutnya terus membersamai. Seorang anak yang sudah cukup dewasa sebagai pengganti bapak, seorang anak lain yang baru saja memasuki runyamnya semester tanggung di bangku perguruan tinggi, seorang lainnya lagi baru saja bersuka cita telah memasuki mimpi para anak muda seusia adiknya untuk melepas seragam sekolah, seorangnya lagi baru saja merasa bahwa masa SMA adalah kebebasannya, seorang lainnya lagi masih berkutat dengan permainan remaja tanggung di bangku menengah pertama, satu yang lain masih bersenang-senang pada masa anak-anak yang hendak remaja, dan satu lainnya yang terakhir masih bahagia dimanjakan dengan rambut yang terbelah dua. Namun pada hari itu, nyatanya semesta memberinya segenggam ujian yang harus ditanggung bersama karena kepergian ibunda. Syair-syair elegi selanjutnya mengiringi langkah mereka, mengantarkan satu tubuh yang sudah kaku karena kehilangan ruhnya. Mengantarkan keberangkatan sang ibunda pada tempat paling jauh yang tak bisa mereka singgahi untuk sekadar melepas rindu yang menumpuk dibalik pakaian basah yang baru dicuci, dibalik tumpukan piring kotor yang hendak dibersihkan. Dan lainnya yang menumpuk dan terus menumpuk, membiarkan hati mereka berat diduduki rindu yang tak pernah habis. Dan kemudian luka-luka tak pernah bisa disembuhkan waktu, ketujuh warna dalam keluarga Nawasena berakhir temaram dan kehilangan sukmanya. ©Jeta An Alternate Universe Renjana, 2021
Quizás también te guste
Slide 1 of 7
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Perfect [Na Jaemin] [✔️] cover
Sergio | Haechan cover
Memories in Moon cover
Sandyakala | Haechan  cover
Renjana [COMPLETED] cover
Luka Naren. cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 partes Concluida

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."