Breathing || Renjun (00L)

Breathing || Renjun (00L)

  • WpView
    Reads 407
  • WpVote
    Votes 228
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 31, 2024
WpInfo
Fanfic
NCT
Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan? Bukan karena sendirian sejak awal, justru karena mempunyai ikatan. Bagaimana kehilangan semua ikatan itu akan terasa sangat menyakitkan. Terlebih manusia tidak akan pernah saling memahami kecuali mereka pernah mengalami penderitaan yang sama. Jadi jangan pernah berlagak kamu tahu apa yang aku rasakan, itu memuakkan. Ah, satu lagi jangan pernah mencegahku melakukan sesuatu. || "Seberapa keraspun aku berusaha melupakan masa itu,nyatanya perasaanku tak bisa berbohong. Bagaimana setiap ingatan itu muncul semakin membuatku membenci dunia yang fana ini,membenci setiap takdir yang kualami, dan berakhir membenci diriku sendiri." "Aku tidak akan meghakimimu,akupun tak tahu sesakit apa yang kamu rasakan. Aku sering bertanya pada diri sendiri,apa hanya aku yang semenderita ini? Namun kamu mengajarkanku, tak ada manusia yang hidup tanpa luka,sekecil apapun itu." Raksa memandang langit malam bertabur bintang itu, kemudian melirik perempuan di sampingnya dan tersenyum manis. Perempuan itupun tersenyum sambil memandang langit malam. " Sa,kamu pernah bilang kenapa manusia nggak bisa seikhlas langit yang rela awan gelap menutupinya lalu menurunkan hujan tanpa pernah menjanjikan pelangi datang?. Sampai saat ini aku nggak pernah menemukan jawabannya, apa kamu sudah menemukan jawabannya Sa?"
All Rights Reserved
#475
aksa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Luka Naren. ( SUDAH TERBIT )
  • Dreaming || Haechan
  • Kemana Arah Pulang?
  • Perfect [Na Jaemin] [✔️]
  • ANDROMEDA (TAMAT)
  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Eshal Renjana (Lengkap)✔

Bagi Naren, rumah bukan tempat pulang. Hanya bangunan penuh suara yang tak pernah mendengar. Sendirian di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah memberinya ruang, Naren hanya ingin satu hal: diterima, meski sekali saja. "Adik gue cuma satu. Cuma Hema." Kalimat itu menamparnya lebih keras dari apa pun. Apakah keberadaannya hanya luka? Apakah ia masih dianggap? Atau justru menjadi alasan penderitaan yang tak berujung? Di tengah ujian hidup yang terus berdatangan, Naren berjuang sendiri menghadapi rasa bersalah, kehilangan, dan harapan yang nyaris pudar. Ini adalah kisah tentang luka yang tak terlihat, tentang rasa sepi di tengah keramaian... dan tentang seorang laki-laki yang diam-diam ingin pulang namun bukan ke rumah, tapi ke hati yang bisa memeluknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines