Eternity

Eternity

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 28, 2024
Motor matic itu mengitari pusat kota, membawa sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Bersama, bersenandung seakan esok semua akan berakhir. Seakan esok tidak ada lagi waktu untuk dihabiskan berdua. "Kamu tau? Sekarang-saat ini perasaanku persis sama seperti langit oren indah itu," ucap laki-laki itu menunjuk langit senja sore itu. "Lalu, jika esok hari badai hujan datang apa perasaanmu untuk aku sudah tak seindah itu lagi?" tanya perempuannya. Keduanya tertawa, seakan itu adalah hal lucu yang pantas untuk ditertawakan. Rasanya bahagia jika berada saat itu. Remaja yang tidak memiliki beban apapun kecuali tugas sekolah. Tapi kami ingat, hari itu kami pernah sangat menyayangi satu sama lain.
All Rights Reserved
#472
collage
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • Audrey (New version)
  • Rose In the Mist and Flame [ REPOST ]✔
  • Di Antara Akar dan Langit
  • Rengkuh Rekah
  • Rainbow In The Rain
  • RAISEN

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines