AnanTama

AnanTama

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 2, 2024
Jika aku jadi kamu, mungkin kita tak akan pernah berkenalan. sebab, aku masih sulit dalam merajut cerita dengan orang baru. Bukan aku tak bisa, namun aku tak ingin mencuri start milik orang lain. Tapi, ini bukan tentang sebuah perlombaan. Aku hanya berpijak pada waktu. Entah dia memberiku cerita yang genrenya bahkan tak pernah terlintas di ruang-ruang khayalanku setiap harinya. Tanpa kusadari semua begitu tertata dengan rapi bagaikan buku di rak-rak perpustakaan kampus yang pernah kita kunjungi di kota yang terkenal dahulunya dengan nama kota jumpandang. Kota itu juga memiliki gedung yang berdiri kokoh menandakan ada banyak impian anak yang bukan hanya lahir ditahun 2000an saja. Segerombolan awan yang kadang tak jalannya beriringan, memberikan kesan tersendiri bahwa hidup itu terus bersama dengan waktu, berputar meski harus menggenggam tangan sendiri. Namun, bagaimana jika takdir mempersatukan kita di kota yang kuanggap sebagai persinggahan sementara. apakah ini hanyalah sebuah fatamorgana di kota jumpandang yang menitipkan isyarat hanya untuk berjumpa dan saling memandang dengan manis?. Aku tak ingin berkenalan dengan sebuah kerumitan yang menjadikan setiap sudutnya sebagai cagar budaya hanya untuk dikunjungi tanpa menetap dengan ruang. Jikalau takdir menggoreskan pena dengan tinta emasnya, maka aku hanya punya satu impian "Anantamaku, jangan datang lalu hilang bersama deburan kenangan". Meski dalam setiap tahunnya, kapal yang berjejeran itu mengambil peranan penting di setiap perjalananmu dalam mencuri jalan agar kita tak saling bergenggaman. Namun, aku berharap ada cinta yang kugapai kembali dikota ini. Saat rambut yang kau rapikan itu menjadikan aku hilang arah pandangan. Bolehkah aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?. Meskipun keraguanku sangat besar untuk tak ingin menggenggammu dengan erat, karena aku tahu tentang jarak yang mengekang tak ingin bersama dengan waktu. Aku ingin menjadi kita. Namun, apakah itu akan ter Aminkan?......Semoga katanya*
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KETIKA LABEL TIDAK LAGI MENENTUKAN SIAPA KITA
  • LAKSADEKA
  • flashback~
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Mahligai Sunyi
  • FALLING IN LOVE
  • Eliinaa
  • Sacrifice ( Lengkap  )

Aline tak pernah meminta untuk dilabeli-sebagai anak pemarah, pembawa sial, atau anak dari keluarga rusak. Tapi itulah dunia: cepat menilai, lambat memahami. Di sebuah kampung kecil, Aline tumbuh dengan luka-luka tak kasat mata, dibisikkan oleh mulut-mulut tetangga, bahkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Hingga ia bertemu dengan pintu-pintu dan jendela baru-sahabat, seorang imam, dan Nando, lelaki yang melihatnya dengan mata yang berbeda. Ini adalah kisah tentang perjuangan untuk membuka jendela hati, memecahkan cermin luka, dan menemukan pintu menuju penerimaan. Bukan hanya oleh orang lain, tapi oleh diri sendiri. Sebuah novel reflektif yang mengajak kita bertanya ulang: Siapa diriku, jika label tak lagi melekat padaku? Cocok untuk kamu yang sedang mencari makna, harapan, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu..... selamat membaca (:

More details
WpActionLinkContent Guidelines