INGKAR UNIVERSE

INGKAR UNIVERSE

  • WpView
    GELESEN 25
  • WpVote
    Stimmen 5
  • WpPart
    Teile 1
WpMetadataReadAbgeschlossene Geschichte So., März 31, 2024
Ketika Alin tidak bisa menepati janji kepada roh yang dipanggil Tuhan sebelum waktunya, di kala roh tersebut pernah merasakan hidup yang sangat menyakitkan yang dialami olehnya Alin pun merasakan kesalahan yang amat besar dan gelisah yang menghantui batinnya, karena Alin telah mengingkari janji yang diucapkan dari lisannya kepada sang teman yang telah memegang teguh perkataan Alin dan Mati dengan tidak wajar Setelahnya, pertanda aneh muncul dari kediaman tempat Alin berteduh, bisikan bising yang telah merasuki jiwanya serta banyak hal yang Alin harus lakukan demi ketenangan hidupnya dan menyelesaikan masalah yang Alin harus lalui agar roh jahat tersebut istirahat kembali dengan tenang seperti mahkluk halus lainnya Bagaimana cara Alin menyelesaikan berbagai rintangan dan cobaan yang di sebabkan oleh ulah roh jahat yang berusaha merusak hidup Alin dan membalaskan dendam serta menagih janji yang di ucapkan oleh Alin ? Dan bagaimanakah cara Alin menghadapi serta berkomunikasi dengan roh jahat temannya yang mati dengan tidak wajar ?
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Dunia lain
  • Thank You For Everything [BoelxYaya]
  • Anaking
  • setangkai mawar di musim dingin
  • bisikan
  • A Scratch For Sanguinis [Orine]
  • The Happiness Home ( Hiatus:)
  • Noisy, Fiony. [END]
  • GRIZLEN {On Going}

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien