Story cover for HANANTA DEVANTARA by VALDIRAMA06
HANANTA DEVANTARA
  • WpView
    LECTURES 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 2
  • WpView
    LECTURES 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 2
En cours d'écriture, Publié initialement mars 31, 2024
Starla, perempuan berusia 17 tahun. Ia sangat asik, apalagi kalau sudah bersama Maura, sahabatnya. Ia mempunyai kekesalan kepada gurunya yang selalu pelit nilai. Ia capek harus remedial terus-terusan, makanya ia sekesal itu dengan guru itu. Namun, di usia 18 tahun ini, ia terpaksa harus mengabulkan permintaan orang tuanya karena ada suatu amanah yang harus dituruti di masa lalu yang kelam. Ia harus menikah muda dengan seseorang. Seseorang itu merupakan orang yang tidak ia sangka-sangka. Namun, dengan ketulusan hati dan menuruti permintaan orang tuanya, ia harus menikah dengan seseorang itu.
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter HANANTA DEVANTARA à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#3memalukan
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
RIMBA MERUN, écrit par danynovery
30 chapitres En cours d'écriture
Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 7
RIMBA MERUN cover
My Teacher Is My Soul Mate cover
Cinta Tersembunyi-Tamat cover
AMNESIAL (END) cover
TOUCHED (End) cover
DIMANA RUMAHKU cover
perjodohan di masa SMA   cover

RIMBA MERUN

30 chapitres En cours d'écriture

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.