DIA TAKDIRKU | OG

DIA TAKDIRKU | OG

  • WpView
    Reads 3,128
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing<5 mins
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 31, 2024
Dia Takdirku AQHEEF NAFHAN Seorang lelaki yang berasal dari keluarga yang berada. Berumur 24 tahun. Meneruskan pelajaran dalam bidang kedokteran. Mempunyai rupa paras yang kacak dan mampu memikat ramai hati tetapi pendiriannya terlalu ramah HANI ADRINA Seorang perempuan yang berasal dari keluarga yang kurang berkemampuan. Berumur 22 tahun. Seorang yang kurang gemar untuk berkawan dengan lelaki. Mempunyai sejarah yang perit dan trust issue. Namun dirinya berubah apabila hadirnya seorang lelaki yang mampu melembutkan hatinya. "sudikah awak menjadi peneman hidup saya hani adrina?" - aqheef nafhan "sanggup ke awak hadap semua penyakit saya?" - hani adrina rumah tangga mereka bahagia hinggalah munculnya dua orang musuh yang cuba untuk runtuhkan rumah tangga mereka. "nak bahagia? hanya aku yang boleh buat kau bahagia" - zaid fahmi "aku benci tengok kau dengan dia! aku akan pastikan kau jadi milik aku aqheef" - amanda sofiya adakah rumah tangga mereka akan bertahan lama? adakah satu hari nanti mereka akan hidup bahagia? semua jawapan ada dalam kisah Dia Takdirku 😉
All Rights Reserved
#428
greenflag
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • 𝐔𝐒𝐓𝐀𝐙 𝐃𝐀𝐘𝐘𝐀𝐍 𝐙𝐈𝐐𝐑𝐈
  • Loving The Sunset. (Hs-2nd Gen)
  • ( EBOOK ) The Heartbreaker Muammar Raid
  • Eyes Contact [Jefri Nichol]
  • Lucky, Im inlove with my Bestfriend
  • ISTERI SANG MAFIA
  • Hujan Rinduku (Keluarga, Cinta, dan Impian) ☑️
  • Jack Rheus And The Cheerful Heart - Victoria Amor
  • 1|| ECEY I: Toxic Love ©️

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines