Siapa Perempuan Itu?!

Siapa Perempuan Itu?!

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 3, 2024
Who said she has everything?Good family, that's make anything is possible to her, but in her real life that is impossible. Tak cukupkah ia mendapatkan perlakuan buruk dari seorang ayah dan ibunya?Even they doesn't care about her.. Don't you see her?Dia terlihat menyedihkan layak mendapatkan penghargaan.But..Dia tak suka dikasihani.Indah diluar namun retak didalam, tak berarti yang ditujukan diluar adalah benar Penasaran? yuk baca But wait, ada syaratnya ni; 1.Dilarang plagiat 2.Dilarang menjadi siders kec saat part 1 3.Kritik dan saran boleh tapi jangan menghina! 4.Vote dan comment 5.Follow my account Enjoyy
All Rights Reserved
#89
sulung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • just family? -End-
  • Istri Cadangan
  • Oneshot Story [COMPLETED]
  • Senja
  • CATUR [END]
  • Very Possesive Brother
  • SAJADAH MERAH [TELAH TERBIT DI LOVRINZ]
  • Garis Takdir Sera [ON GOING]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines