Bayu Bumantara

Bayu Bumantara

  • WpView
    Membaca 36
  • WpVote
    Vote 16
  • WpPart
    Bab 7
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Mei 24, 2024
Pavana Bayu Lea Winata, hanya seorang gadis kecil yang kehilangan keluarganya. Angin topan yang menewaskan keluarganya juga ikut menewaskan hatinya, ia tenggelam dalam lautan kesedihan yang mendalam. Terlebih lagi matanya menjadi buta karena angin itu. Pavana benar benar benci setengah mati pada angin yang bertiup, di satu sisi ia takut angin itu akan menerbangkan apa yang tersisa sekali lagi. Pavana benar benar putus asa, setiap kali angin bertiup agak kencang, Pavana lari menyesuaikan arah angin itu bertiup sehingga ia tidak merasakan hembusan yang membawa kenangan menyakitkan. Keseharian Pavana pun sangat melelahkan, tiada henti sepanjang hari. Namun suatu hari keajaiban terjadi, keajaiban tentang apa yang dibencinya menjadi harapan satu-satunya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#204
hero
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • 12 Titik Balik (END)
  • Elegy
  • Hening
  • Withering - First Story - Alpha
  • who know's? Another World Arc(Fin)
  • Ignasia: Di Balik Gerbang Asrama (Harqeel)
  • [END] High School of Mystery: Cinereous Case

(Sudah revisi) SMA Garuda Merah, sekolah megah penuh ambisi, kini menjadi kandang maut bagi dua belas jiwa muda. Dalam satu malam penuh misteri, gerbang terkunci, listrik padam, dan suara Kepala Sekolah menggemakan perintah mematikan: "Bertahanlah, atau hancur bersama waktu." Aneth, gadis tangguh namun rapuh, harus memimpin teman-temannya menari di ujung pisau. Persahabatan diuji, cinta dipertaruhkan, dan pengkhianatan berbisik di setiap sudut gelap lorong sekolah. Malam-malam panjang penuh teriakan dan isak tangis, membuat solidaritas pecah. Saat darah membasuh lantai sekolah, dan satu per satu nyawa direnggut, Aneth sadar: di permainan ini, tidak ada pahlawan - hanya korban dan pengkhianat. Di ujung segalanya, saat tubuh-tubuh yang dulu hangat kini membeku, Aneth berdiri sendiri, menggenggam bendera yang kini basah oleh darah. Dari balik jeruji tak kasat mata, ia menyadari: yang tersisa dari hidup bukan kemenangan, melainkan luka yang abadi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan