The Shoes that Do Not Fit

The Shoes that Do Not Fit

  • WpView
    Reads 122
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 11, 2024
Nirmala percaya cinta bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba. Baginya, cinta seperti benih kecil yang dirawat agar bertumbuh menjadi pohon besar yang kokoh nan kuat. Maka, ketika Arjuna mengajaknya membangun hubungan, cinta bukanlah pertimbangan yang pertama. Arjuna percaya cinta adalah hal yang akan selalu ada dan banyak bentuknya. Ada cinta untuk pasangan, orang tua, dan mungkin saja untuk sahabatnya. Tidak ada jenis cinta yang lebih penting dari yang lainnya, bagi Arjuna semua sama adanya. Maka, ketika Arjuna meminta Nirmala menjadi kekasihnya, cinta yang dia rasa adalah pertimbangan yang utama. Rigel dan Eva adalah dua nama yang hadir di antara Arjuna dan Nirmala. Keduanya memberi warna dalam kisah yang sudah ada. "Sabitah adalah bintang yang selalu berada pada gugus yang tetap di langit. Sosoknya bagai pelita yang tak pernah pergi ke mana-mana. Dia diam di sana, menantikan aku datang menjemputnya." "I don't wanna make you feel like you are the shoes that do not fit, because it's not you, it's me. I am the shoes that do not fit." Satu kisah, empat pandang, dan sepasang sepatu yang tidak akan pernah tepat dipakai. written by toujoursinocencia (Inocencia)
All Rights Reserved
#16
officelove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • CHEOSSARANG (Complete)
  • Secangkir Kopi & Pencakar Langit (#1)
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Trial & Error
  • Memeluk Kabut
  • My Other 1/2
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Mencintai Nania
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines