Merajut Impian Ditengah Badai (Selesai)

Merajut Impian Ditengah Badai (Selesai)

  • WpView
    Reads 134
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Aug 15, 2025
WpInfo
Fiction
Fantasy
Bicara soal impian, apa impian kalian? Disini dikisahkan seorang remaja bernama Badai, remaja yang memiliki gangguan mental sejak kecil. Dia memiliki sebuah impian kecil, namun sangat berarti baginya. Tapi seperti yang kalian ketahui, meraih impian tidaklah mudah. Ada saja rintangan yang datang menghampiri kita. Bahkan ada saat sedikit lagi impian kita tercapai, tiba-tiba semuanya berantakan. Kira-kira begitulah perjalanan Badai dalam meraih impiannya. _Takdir memang sudah ditentukan, tapi bukan berarti tidak ada kesempatan untuk kita mengubahnya menjadi lebih baik_ "Sesuatu yang dipaksakan memang tidak baik, tapi kenapa dengan bodohnya gue ga bisa lawan itu? "_Atalya Badai crys. Tapi bukan tokoh utama lah yang menjadi sorotan dalam cerita ini. Warning⚠ Ini karya asli milik saya, dilarang plagiat
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Kisah Cinta Rayhan & Adara
  • ATMOSFER [END]
  • takdir cinta anak pesantren (TAMAT)
  • Arsyilazka
  • ALVIN (On Going)
  • CLAUSTRUM || End✓
  • Zidan With Syakira
  • ALKANTARA || END || Belum Revisi

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines