Book, hand, art

Book, hand, art

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 11, 2025
Kota ini selalu berbau seperti hujan yang hampir turun tapi tak pernah benar-benar jatuh. Caroline, gadis 16 tahun dengan kepala penuh kata-kata , terjebak dalam rasa bersalah yang tak bisa diungkapkannya. Ia ingin menjadi penulis, namun setiap kali menulis, hasilnya terasa datar-seperti lukisan tanpa warna. "Apa untuk menulis sesuatu, kita harus merasakannya lebih dulu?" pertanyaan itu terus menghantuinya. "Lo nulis kayak orang yang takut jatuh ke dalam ceritanya sendiri," ucap arash di suatu sore. Atas ajakan arash tentang lomba menulis, Caroline tergoda untuk mencoba.Arash mendorongnya, sementara Ghea bersorak paling kencang. Tapi pertanyaannya tetap: Apakah ini awal yang baik, atau justru akan membuka luka lama?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Embun di Ujung Semanggi
  • INDIRAKSA
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • The Special Class
  • Dancing for the Star [TAMAT]
  • Vericha Aflyn ✔️
  • DEVIAN [END]
  • Romansa Tuan Sastra | Lee Heeseung ✓
  • AMERTA : The Last Embrace

Aslan kembali setelah enam tahun, sebagai orang yang tak pernah Lea kenal. Gerak-geriknya masih lembut, senyumnya tetap bisa memanaskan pagi yang dingin, tapi sorot matanya menyimpan musim yang berbeda. Seolah ada badai yang sudah lama reda walau belum sempat dilupakan. Aslan menjadi teka-teki yang tak ingin dipecahkan, dan justru karena itulah hati Lea tergelincir padanya. Lea tahu: ada perasaan yang seharusnya tak tumbuh di antara akar persahabatan. Tapi rasa itu hadir seperti embun di ujung daun semanggi-tak diminta, tak dirancang. Seindah harapan kecil yang tak pernah dijanjikan akan bertahan. Aslan yang dulunya magnet bagi masalah, kini menjadi benteng perlindungan Lea. Dan Lea hanya ingin satu hal: kejujuran, sepahit apa pun itu. "Aku gak bohong waktu bilang kalau kamu perempuan paling keren yang pernah kukenal. Wajar, aku suka kamu. Apa menyukai kamu itu suatu kesalahan-atau satu-satunya kebenaran yang masih tersisa dari kita?" Judul sebelumnya: Jakarta's Hidden Melody

More details
WpActionLinkContent Guidelines