
Ada anak yang tidak pernah benar-benar pulang. Bukan karena ia tersesat, melainkan karena tidak ada lagi rumah yang mau menerimanya. Ia belajar sejak kecil bahwa dunia tidak selalu bertanya *mengapa*. Dunia hanya menunjuk dan memutuskan. Siapa yang pantas, siapa yang berlebih. Ada malam ketika api menyala terlalu terang. Ada pagi ketika abu lebih berat daripada kenangan. Dan ada perjalanan panjang yang dimulai tanpa peta. Di suatu tempat, berdiri tembok yang tidak bisa ditembus semua orang. Di baliknya, mereka menyebutnya sekolah. Namun yang benar-benar dipelajari di sana bukan sekadar membaca atau bertarung- melainkan cara bertahan tanpa kehilangan diri sendiri. Anak itu membawa sesuatu dalam dirinya. Bukan kutukan. Bukan anugerah. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mengerti. Ia hanya tahu satu hal: jika dunia menolaknya sekali lagi, ia tidak akan lari. Ia akan berdiri. Dan cerita ini dimulai tepat sebelum ia tahu bahwa berdiri selalu punya harga.All Rights Reserved
1 part