Liburan MalaPetaka

Liburan MalaPetaka

  • WpView
    Reads 65
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jun 6, 2024
WpInfo
Fiction
Mystery
"Kehidupan SMA kita gini gini aja ya. Coba aja ada perperangan atau kayak filn sweet home, dan all of us dead. Tapi kayaknya bisa deh? Hmm." "Bisa kok, kalau lo mau, buat aja kronologinya terus di bikin dramanya di dunia ini." _____________________________________________ "Ga nyangka ternyata lo sejahat ini sampe bikin kita sengsara! KENAPA GUA HARUS LIAT TEMEN TEMEN GUA MATI DIHADAPAN GUA?!" "Masih untung lo yang terakhir, setidaknya lo gak mati penasaran." ____________________________________________ TIDAK MENGUNSUR PORNOGRAFI, PELECEHAN ATAU UNSUR ADEGAN DEWASA Cerita disini hanyalah fiktif belaka yang diambil dari imajinasi Author
(CC) Attrib. NonComm. NoDerivs
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Blue Trapped In BL Novel
  • VANIA AND BOYS LOVE NOVEL!
  • DI BALIK ANDROMEDA (END/REVISI ULANG)
  • Plot Twist Sang Figuran (TERBIT)
  • Suddenly Becomes Samara In The Novel
  • DANADYAKSA
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • ARA - REVISI

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines