ANANTARA

ANANTARA

  • WpView
    Reads 2,587
  • WpVote
    Votes 1,423
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 4, 2025
"Anantara," ucap zean melihat coretan di buku diary grenna yang penuh dengan kalimat yang sama yaitu "ANANTARA". "Artinya apa?" Tanya zean. Grenna tersenyum lalu menutup buku diary miliknya. "Anantara merupakan istilah yang diambil dari bahasa sansekerta yang secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah tanpa jarak," ujar grenna. Zean mengangguk paham, lalu merangkul grenna menyandarkan kepala gadis itu dipundaknya. "Gakpapa kalau emang gak ada tempat untuk bercerita, udah biasa nangis sendiri kan?" Ucap zean. Grenna mengusap kelopak matanya yang sudah berkaca-kaca. "Gue punya rumah, tapi gue gak punya rumah," lirihnya pelan. Zean tersenyum tipis,paham dengan apa yang dikatakan grenna. "Semua orang bisa menjadi ibu, semua orang bisa menjadi ayah, tapi nggak semua orang bisa menjadi orang tua," ujar zean. Grenna menghela nafasnya lelah, lalu menatap zean yang juga menatapnya. "Mari sembuh, tanpa bercerita," ucapnya. Zean mengangguk pelan, tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata di kelopak mata grenna, "jaga diri, jangan mati ditangan sendiri." .................................................................................. Pict:Pinterest _2024_ Story rating🎖️ #3 menyedihkan #3 mati rasa
All Rights Reserved
#208
matirasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Suara Yang Tak Pernah Di Dengar
  • 𝟗𝟎% 𝐋𝐮𝐤𝐚 [𝐎𝐧 𝐆𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • Paradise
  • [ ✓ ] Fathir : Ada Tapi Tak Di Anggap
  • RIRI NATARI [END]
  • Sheina (Terbit)
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • About Naskala [on going]
  • Your Home [COMPLETE]

Di rumah itu, Shena tumbuh seperti bunga yang dipaksa mekar di tengah musim dingin. Suaranya tak pernah didengarkan, mimpinya dipatahkan sebelum sempat terbang, dan langkahnya selalu dikendalikan oleh bayang-bayang harapan yang bukan miliknya. Ayahnya membangun tembok dari ambisi, ibunya bersembunyi dalam diam, dan kakaknya bersinar terlalu terang hingga membuat Shena tampak seperti bayangan yang tak dianggap. Ia belajar menelan kecewa dalam senyap, menyembunyikan air mata di balik senyum yang terlatih. Dalam sepi yang menggema, Shena menemukan satu ruang di mana ia bisa bebas: menulis. Ia mencurahkan isi hati dalam baris-baris rahasia di blog tanpa nama-tempat di mana jeritannya tak perlu suara, tapi tetap bisa menyentuh hati yang terluka. Tulisannya mulai menyebar, dibaca dan dikagumi orang-orang asing yang tak tahu siapa dirinya. Namun saat rahasianya hampir terbongkar, Shena berdiri di persimpangan: tetap menjadi bayangan yang diam, atau berani menjadi suara dari luka yang selama ini dibungkam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines