BAYANAKA

BAYANAKA

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 5, 2024
Memang manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna. Namun diluar kalimat itu ada banyak manusia yang tidak sempurna. Karena manusia tidak bisa sempurna karena ia bukanlah Tuhan, ia hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Ada yang unggul di pelajaran akademik maupun non akademik, ada yang lebih indah parasnya dari orang lain, ada yang lebih cepat faham dari orang lain, dan sebagainya. Manusia mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing masing, Namun manusia terkadang melupakan hal itu hingga selalu menuntut segala sesuatu agar sempurna.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Resital Sunyi (End)
  •  ANATHA
  • Tikungunya
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Sederet Luka Untuk Indira (Sudah Terbit)
  • "Terima kasih" Katanya (On Going)

Ada cinta yang dikejar bukan karena jiwanya menyentuh, tapi karena citranya menjanjikan kesempurnaan. Ada yang dipilih bukan karena diinginkan, tapi karena hadirnya memudahkan. Sebagian hati hadir bukan untuk dimiliki, melainkan menjadi tempat singgah dalam badai yang tak kunjung reda, lalu dilupakan saat matahari kembali menyapa. Dan ada pula hati yang tak bersuara, menunggu dalam senyap, memanggul rindu tanpa jaminan akan menjadi tempat pulang. Hati yang tak pernah ditanya, tapi selalu ada; menjadi rumah bagi seseorang yang tak pernah ingin tinggal. Lucunya, cinta tak pernah paham logika. Ia tak memilih yang pantas, tak menetap pada yang layak. Ia berdiam di tempat yang paling retak, tumbuh di antara luka-luka yang belum sempat sembuh, menjadikan harapan sebagai candu untuk bertahan. Ini bukan sekadar cerita tentang cinta yang tak terbalas. Ini tentang jiwa yang rela menjadi persinggahan dalam hidup orang lain, meski ia diciptakan untuk menjadi rumah. Tentang keberanian mencintai tanpa pamrih, tentang ketulusan yang tak meminta kembali. Karena mungkin, dalam dimensi cinta yang paling sunyi, hadir, meski tak dianggap, lebih bermakna daripada pergi tanpa sempat menyentuh. - "Lo tuh bukan yang gue mau, Bun. Lo cuma yang kebetulan ada pas gue hancur." -Lautvianar "Gue tau gue cuma pelampiasan. Tapi lo tau yang lebih nyakitin? Bahkan buat nyakitin, lo masih butuh gue." -Embunara

More details
WpActionLinkContent Guidelines