Zilan Or Agra?

Zilan Or Agra?

  • WpView
    Reads 232
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 10, 2026
Zilan selalu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Sejak kecil, ayahnya memperlakukannya dengan dingin tanpa pelukan, tanpa pujian, tanpa kehangatan. Setiap kali ia mencoba mendekat, yang ia dapatkan hanyalah bentakan atau tatapan penuh kebencian. Sebagai anak tunggal, ia tak punya siapa-siapa untuk berbagi perasaan itu. Di sekolah, ia terlihat seperti remaja biasa, tertawa bersama teman-temannya, mengikuti kelas seperti biasa, tapi di dalam hatinya ada luka yang terus menganga. Hingga suatu hari dalam keheningan malam, remaja itu berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan mata kosong. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar, entah karena lelah atau ketakutan yang perlahan menjalar. Di balik pantulan kaca, sesuatu muncul, bayangan hitam, samar pada awalnya, lalu semakin jelas. Sosok itu tinggi, kurus, dan seolah tak memiliki wajah, hanya sepasang mata gelap yang berkilat di tengah kegelapan. Nafasnya berat, seperti bisikan yang merayap di udara. "Aku bisa menjadi dirimu," suara itu bergema, menyusup langsung ke dalam pikirannya. Jantung remaja itu berdetak kencang. Tubuhnya ingin berbalik, ingin berlari, tapi kakinya terasa terpaku di tempat. Bayangan itu tidak bergerak, tapi kehadirannya begitu nyata, begitu menekan. Lalu, dari balik cermin, bayangan itu mengulurkan tangannya, sebuah jemari panjang dan menghitam, hingga merenggut dirinya ke dalam kegelapan. . . . . . Kalo suka silakan mampir >o<
All Rights Reserved
#149
kepribadianganda
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • LUKA
  • Juan [REVISI]
  • Alisa's Story
  • Vericha Aflyn ✔️
  • NESTAPA [On Going]
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Terluka Untuk Bahagia [ REVISI ]
  • Paradise

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines