Zilan selalu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Sejak kecil, ayahnya memperlakukannya dengan dingin tanpa pelukan, tanpa pujian, tanpa kehangatan. Setiap kali ia mencoba mendekat, yang ia dapatkan hanyalah bentakan atau tatapan penuh kebencian.
Sebagai anak tunggal, ia tak punya siapa-siapa untuk berbagi perasaan itu. Di sekolah, ia terlihat seperti remaja biasa, tertawa bersama teman-temannya, mengikuti kelas seperti biasa, tapi di dalam hatinya ada luka yang terus menganga.
Hingga suatu hari dalam keheningan malam, remaja itu berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan mata kosong. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar, entah karena lelah atau ketakutan yang perlahan menjalar. Di balik pantulan kaca, sesuatu muncul, bayangan hitam, samar pada awalnya, lalu semakin jelas.
Sosok itu tinggi, kurus, dan seolah tak memiliki wajah, hanya sepasang mata gelap yang berkilat di tengah kegelapan. Nafasnya berat, seperti bisikan yang merayap di udara.
"Aku bisa menjadi dirimu," suara itu bergema, menyusup langsung ke dalam pikirannya.
Jantung remaja itu berdetak kencang. Tubuhnya ingin berbalik, ingin berlari, tapi kakinya terasa terpaku di tempat. Bayangan itu tidak bergerak, tapi kehadirannya begitu nyata, begitu menekan.
Lalu, dari balik cermin, bayangan itu mengulurkan tangannya, sebuah jemari panjang dan menghitam, hingga merenggut dirinya ke dalam kegelapan.
.
.
.
.
.
Kalo suka silakan mampir >o<
Tous Droits Réservés