Figuran ? Bodo Amat !

Figuran ? Bodo Amat !

  • WpView
    Reads 3,875
  • WpVote
    Votes 253
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 22, 2025
Alessa Virendra terbangun di dunia novel romance remaja yang pernah ia baca-sebagai figuran. Bukan tokoh utama, bukan tokoh penting. Hanya pelengkap latar belakang yang nggak punya efek apa-apa ke plot. Dan itu, menurut Alessa, justru menyenangkan. Ia berniat hidup tenang tanpa ikut campur, membiarkan tokoh-tokoh utama memainkan drama mereka sendiri. Tapi semuanya berubah saat ia melihat bahwa cerita ini tidak seindah yang ia kira. Arabelle, si protagonis cewek yang terkenal manis, lembut, dan selalu menjadi korban dalam cerita, ternyata memiliki wajah lain. Di balik air mata dan kepolosannya, tersembunyi sifat manipulatif dan ambisi besar untuk memastikan dirinya selalu menjadi pusat dunia semua orang. Selina Raventia, si 'antagonis cewek' yang dicap sombong dan pencemburu, ternyata hanya korban framing. Renard Daevas, 'si licik penuh intrik', sebenarnya hanya melindungi seseorang yang penting baginya-seseorang yang Arabelle incar. Dan yang paling parah, kehadiran Alessa, yang seharusnya hanya figuran, justru mengancam alur sempurna yang telah Arabelle bangun selama ini. Ditarik ke dalam pusaran drama yang tidak ia inginkan, Alessa punya satu prinsip: > "Gue bukan pahlawan. Gue bukan villain. Tapi kalau lo main kotor, gue nggak segan kotorin tangan juga."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines