Charamel 🍭🥞

Charamel 🍭🥞

  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 12, 2024
Keluarga chara bahagia, keluarga chara utuh, itu yang chara tahu, dan itu yang terlihat di mata orang-orang. Namun chara hanyalah bocah lugu yang hari-harinya selalu di isi dengan bermain. Setiap hari bunda akan membangunkannya saat matahari mulai muncul. Ia akan meminta bunda memilihkan baju mana yang akan di pakainya hari itu, setelahnya ia akan meminta di pakaikan aksesoris yang lucu-lucu. lalu di meja makan Ayah sudah duduk dengan secangkir kopi dan koran yang yang menemaninya. Ayah akan mencium nya atau sekedar mengucapkan selamat pagi padanya. Namun, Pagi itu tak seperti biasanya. Chara bangun sendiri, tidak ada Bunda yang membangunkan nya. Ayah yang biasanya bersantai di meja makan pun tidak menampakkan batang hidungnya. lalu kemanakah bunda dan ayah pergi? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Cari tahu jawabannya di cerita ini!
All Rights Reserved
#569
cemara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • KAYRA ANASERA
  • Arselio Maverick P.
  • Sembunyi Dalam Senyum [COMPLETED]
  • PRIHAL RUMAH DAN SEISINYA | ENHYPEN
  • Just Once ✔
  • Different, D.A || Selesai ||
  • Mengalah? Gak papa (END)✔
  • I Will Change My Fate | By: soraya || Rora & Jungwon

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines