Serpihan Luka di Dekap Tuhan

Serpihan Luka di Dekap Tuhan

  • WpView
    Membaca 9
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Apr 25, 2024
"Sebab ber-Tuhan memaksaku bertahan." -Fyneen Candrima Devani Luka dan duka, tawa dan lara, sengsara dan bahagia, begitulah komponen dalam alur hidup yang telah ditulis Tuhan. Beberapa hal berjalan sesuai dengan langkah dari waktu yang terus menua. Roda hidup yang tak pernah berhenti, hingga waktunya tiba, memaksa Fyneen—gadis cantik berusia 20 tahun—tetap menjalani hidupnya, meski beberapa kali banyak hal yang direnggut. Terluka, menangis, terjatuh, lalu bangkit lagi, sesuatu hal yang sangat biasa menurut Fyneen. Baginya, ya beginilah normalnya hidup. Tak ada hal yang perlu ditangisi hingga berlarut, apalagi luka yang terus dipeluk hingga tertanam menjadi dendam dan kepedihan. Semua harus dilepas sesuai masanya. Sebab, setiap serpihan dari apa yang terjadi dalam hidup, adalah bentuk reinkarnasi dari kasih sayang Tuhan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Tomboyish Girl [Proses Penerbitan]
  • SETULUS CINTA SANG MUALAF
  • Till I Meet You
  • Dunia Alana
  • Cinta Dalam Hijrah || SELESAI
  • Menanti Hangatnya Hati
  • ALDIR (SEGERA TERBIT)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan