Langit Yang Tak Pernah Biru [On Going]

Langit Yang Tak Pernah Biru [On Going]

  • WpView
    LECTURAS 16,666
  • WpVote
    Votos 719
  • WpPart
    Partes 25
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, jul 12, 2025
"𝗗𝗶𝗮 𝘁𝗮𝗸 𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻... 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝘀𝗲𝗼𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗮𝘁𝗶." 𝗥𝗮𝗴𝗮 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮. Anak kedua yang tumbuh tanpa cinta. Disiksa ayahnya, dibenci saudara kembarnya. Rumah? Bukan tempat pulang, tapi tempat ia belajar menahan napas. Namun, sekeras apapun dunia menekannya ke tanah, Aksara memilih untuk tetap berdiri. Karena jika hidup adalah luka, maka ia akan jadi bekas yang tak bisa dihapus. ══════════════════════════ Note: Cerita ini mengandung kata-kata kasar dan ujaran kebencian ⚠️
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Sudut Luka Nazea
  • Buah kebencian untuk ayah END (Versi revisi)
  • Angkasa (Forget Me Not)
  • Jiwa Aksa ✔
  • ELGARD
  • TRAUMATIZED🪽(END)
  • AFKARA [END]

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido