"Akuu sayangg banget sama kamu, jangan tinggalin akuu ya, aku mohon, aku ga bisa hidup tanpa kamu, aku kurang apaa? aku ada salah ya sama kamu? kamu kenapa kaya gini, aku gamau ditinggalin sama kamu, aku sayang banget sama kamu," ucap gadis cantik itu.
Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi, gadis itu menangis sejadi-jadinya. bahkan Ia rela menurunkan harga diri nya demi kekasihnya itu. Sungguh, gadis itu benar-benar mencintainya.
"Tapi aku udah ga sayang sama kamu!" ucap seseorang kemudian meninggalkan gadis itu seorang diri di sebuah taman.
Bagai disambar petir di siang bolong, hati gadis itu hancur se hancurnya. Ia telah kehilangan hidupnya, tidak hanya separuh, melainkan Ia kehilangan seluruh hidupnya. Gadis itu tertunduk lemas, air matanya mengalir sendari tadi. Ia memandang sekitar taman dengan tatapan kosongnya.
|AZALEO|
"Aku sayang sama kamu alea," - Falleo
"Kenapa?" -Azalea
"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara
Tujuh tahun.
Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis.
Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja.
Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda.
Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah.
Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat.
Sampai... Adrian muncul.
Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya,
"Ayah."
Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui:
Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu?
Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur,
bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?