Mom, I'm Sorry

Mom, I'm Sorry

  • WpView
    Membaca 28,635
  • WpVote
    Vote 1,722
  • WpPart
    Bab 24
WpMetadataReadLengkap Kam, Des 11, 2025
"Dia memang lelaki cacat, tapi dia adalah sosok yang sempurna untuk Ibunya." Arbian Kavidra lahir dengan satu mata, tapi itu cukup baginya untuk melihat kenyataan. Sejak kecil, dia memahami bahwa kasih sayang tidak selalu datang dari tempat yang seharusnya. Bahwa tidak semua anak berhak mendapatkan pelukan, belaian, atau bahkan sekadar tatapan penuh cinta dari ibunya sendiri. Dia tumbuh dalam hening, dalam kesadaran bahwa keberadaannya lebih sering menjadi beban daripada kebanggaan. Setiap langkahnya terasa seperti kesalahan, setiap nafasnya seolah hanya menambah kekecewaan. Bukan karena dia tidak mencoba, tapi karena sejak awal, dunia-dan ibunya-tidak pernah benar-benar menginginkannya. Namun, Arbian tetap tersenyum. Bukan karena hidupnya indah, tapi karena itu satu-satunya cara untuk menutupi lukanya. Tak ada yang tahu betapa keras dia berusaha, betapa hancur dirinya setiap kali harapan kecilnya untuk dicintai harus kandas begitu saja. Bukan dunia yang ingin dia menangkan. Bukan pengakuan orang lain yang dia cari. Dia hanya ingin satu hal-sedikit saja ruang di hati perempuan yang melahirkannya. Namun, seiring waktu, Arbian mulai mengerti. Mungkin, cinta itu memang tidak pernah ada untuknya. judul pertama : Perfection foto berasal dri pin.. 24/5/24
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#327
cacat
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  •  HAZELA
  • Kesedihan [SELESAI]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Different (END)
  • Dandelion [TERBIT]
  • LUKA
  • Buku Diary Dalam Rumah Kayu ( Tamat )
  • Cahaya Dari Luka
  • Satria Dirgantara [Complete]
  • Antara Dendam dan Cinta
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan