Father's Regret

Father's Regret

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Sat, May 4, 2024
"Hai Ayah! Gina ingin mengucapkan selamat hari Ayah. Tidak ada kenangan yang lebih indah dari pada melihat senyum Ayah. Meskipun hanya sesekali Gina Melihat senyum bahagia Ayah. Namun itu sangat membekas sekali. Banyak anak-anak yang beruntung mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, namun berbeda dengan diriku yang haus kasih sayang dari Ayah. Dari mu aku mengharapkan kasih sayang. Walaupun Ayah tidak mendampingi diriku hari ini tapi aku tetap menulis kan ini untuk dirimu. Sekali lagi selamat hari Ayah. Gina sayang Ayah." Isi surat yang Gina tulis untuk sang Ayah. DISCLAIMER⚠️ •Cerita ini hanyalah karangan fiksi semata. •Kata-kata kasar/kekerasan dan hal sensitif yang dapat ditulisan bukan untuk ditiru. •Apabila terdapat kesamaan nama,latar dan waktu itu murni ketidaksengajaan.
(CC) Attrib. NonComm. NoDerivs
#4
hariayah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Untuk Ayah
  • BETWEEN
  • Pacar Halusinasi Ochi [SELESAI]
  • Maaf' (Revisi)
  • Arshaka Heizen Lergan
  • Surat Kecil
  • HAGA : Becoming the Father of the Villain Twins
  • Asheeqa's Dream [COMPLETE]✔
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)
  • He's My Best Friend [END]

( S E L E S A I ) Alena, seorang gadis yang kehidupannya nyaris sempurna. Memiliki seorang Ayah yang sangat menyayanginya, Ibu yang selalu menyiapkan sarapan dan makan malam bersama, kakak perempuan yang populer dengan kecantikan dan kepintarannya, bahkan dirinya selalu mendapat juara 1 di setiap perlombaan cipta puisi. Tapi ternyata waktu terus berlalu, setiap manusia berubah seiring detik dan detak yang berbunyi. Usianya yang menginjak remaja di Sekolah Menengah Pertama, hari-harinya mulai dirasa sepi, hanya Ayahnya yang bersedia menemani dan mengerti. Selalu begitu, rata-rata memang anak perempuanlah yang paling dekat dengan sosok Ayah. Tapi bagaimana jika tuhan lebih menyayangi laki-laki yang selalu ada untuk gadis kecilnya? Bagaimana jika saat bahagia itu ada saat itu pula tuhan hentikan detaknya tapi detik terus berubah menit, jam, hari, dan begitu seterusnya? Cerita singkat ini ditulis untuk kita memaknai suatu peristiwa, menghargai waktu yang ada, berdiri di masa kini, serta sejenak menyingkirkan ketakutan masa lalu dan masa depan. Nikmati dengan secangkir teh dikala matahari terbenam, agar kamu tahu bagaimana senja sekejap lewat untuk sekadar memberi damai. Selamat membaca! Penulis Frisca Octavian

More details
WpActionLinkContent Guidelines