PUISI: Catatan Si Bucin

PUISI: Catatan Si Bucin

  • WpView
    Reads 158
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadComplete Sun, Jun 15, 2025
Dia tidak bersuara dalam dunia nyatanya, Hanya mata yang menggambarkan perasaannya. Dia tidak bergeming dalam menemui Tuhan pada malam-malamnya, Bahkan saat-saat ia merasa lelah terhadap dunia. Ia begitu takut akan murka Sang cinta, Hingga tak ada satupun makhluk yang ingin dicintai olehnya. Namun ia adalah manusia, berkhilaf dan penuh dosa. Perjalanan membujuknya, merayunya hingga membawanya perlahan merubah pandangan. Dingin, acuh dan kaku adalah sifat luarnya, Kenyataan hatinya seperti sutra dan kaca, lembut dan rentan. Bahkan seperti seorang induk yang menyayangi anak-anaknya. Kepedulian selain dirinya sendiri adalah hal yang paling utama. Begitulah ia, senyap namun jarinya mengukirkan rasa. Agar tak hilang dimakan waktu inilah pengabdiannya baginya.
All Rights Reserved
#204
truestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝐻𝑖𝑑𝑒𝑝 π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘€π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘€π‘Žπ‘˜π‘’ π‘ƒπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’
  • antara hujan dan luka
  • The Last Birthday With You
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • rain untuk senja
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
  • Waktu?
  • Sudah September
  • DENNIES
  • Sejenak Luka

Elin Zafira Anjani, gadis 15 tahun bertubuh mungil dengan rambut panjang yang digerai sederhana. Kulitnya sawo matang bersih, dan mata cokelat gelapnya sering menatap jauh ke arah yang hanya dia mengerti-seperti tengah berbicara dengan dunia yang tak bisa menjawab. Di balik sikap diam dan tubuh yang tampak rapuh, Elin menyimpan impian besar: menjadi pelukis. Ia selalu membawa buku sketsa kecil di dalam tasnya, penuh coretan wajah-wajah, bunga, dan pemandangan yang hanya ia lihat dalam benaknya. Tapi impiannya tak berhenti di situ-ia juga mencintai puisi. Saat dunia terasa terlalu berat, Elin menuangkan rasa sakitnya lewat bait-bait sunyi yang hanya dibaca dirinya sendiri. Melalui lukisan dan puisi, Elin membangun dunianya sendiri-tempat di mana ia bebas, diterima, dan tidak dihina. Karena di dunia nyata, ia adalah gadis yang dibully, disebut "anak pelacur", dan bahkan keluarganya pun enggan membelanya. Tapi di dunia yang ia ciptakan, Elin adalah cahaya-meski kecil, ia tak pernah padam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines