Abandoned House Near Lakes

Abandoned House Near Lakes

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 6, 2024
"to-tolong....." suara lirih terdengar di dalam sebuah ruangan di rumah tua itu. "s-siapa t-tu!?" teriak nya penuh akan emosi takut yang meluap luap. "alah bunyi angin je tu kau jangan takut lah takde apanye, eh aku pelik kenapa kite je yang boleh tengok rumah ni?" tanya sang anak perempuan. "haih.. Itulah yang aku herankan kenapa kita je yang boleh nampak rumah ni?" ucapnya dengan tangan yang gemeteran memegang lampu. "eish kau ni suluh lah betul betul apa yang ada disana tu!" ucap anak perempuan itu mengarahkan tangan anak laki laki yang memegang lampu itu kearah sebuah bilik. "y/n a-apa bende tu?!" ucap sang remaja laki laki itu sambil menunjuk seperti sosok seseorang yang tengah berdiri di luar jendela. "lari-" jleb pisaupun tertancap tepat atas kepala. "kena kau... Mau lari kemana lagi adik? Dirumah ini tak ada jalan keluarnya lagi jika kau sudah memasukinya. Penasaran? Ayo lanjut membacanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stuck In Memories
  • UNKNOWN [COMPLETE]
  • NCT NEXT DOOR (TAEYONG(NCT)XYERI(REDVELVET))
  • BERUBAH
  • koleksi novel
  • HE'S MY HUSBAND🚫 (COMPLETE)
  • THE SPLIT : BRAHMS
  • Just One Day (하루만) - (Halilintar x Taufan)
  • HIS BABYPAU [HIS ETERNAL LOVE] | TERBIT

Seketika ingatanku terjebak pada harapan bodohnya. Ketika kami duduk berdampingan pada malam yang kelam benderang : "Nanti kalo udah jadi arsitek beneran, gue bakal rancang rumah mini gue disini. Rumah beratap rumbia yang ada cerobong asapnya. Lantai marmer dan dinding dilapisi cat pastel anti air plus taman baca berbentuk daun teh. Klop banget". Peter menyampaikan impiannya itu dengan gerakan tangan, seolah-olah ia benar-benar merancangnya. Langsung saja aku menepuk lembut pipi kanannya. "Itu proyek gue, ya maksudnya rancangan proyek gue kalau kita udah nikah nanti" Ujarnya lagi membetulkan "What a strange project" Responku singkat. Kami tertawa berbarengan. Sejenak kemudian kami sama-sama diam. Di malam yang dingin dan pemandangan yang menakjubkan itu, aku bersyukur beberapa kali diberi kesempatan untuk bisa bersamanya dan berharap esok akan tetap seperti ini. Bahkan lebih dari sekedar malam ini, esok dan seterusnya pun akan menjadi milikku dan dia. Entah dipikirannya sama denganku atau tidak, seperti yang ia katakan, spesial itu adalah ketika kita bersama orang yang kita sayangi dalam kondisi sesulit apa pun. Itu tepatnya. Dan, yang sekarang aku pinta hanya ingin dia hadir disini. Merencanakan mimpi-mimpi bodohnya lagi. Tapi, apa masih bisa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines