We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Laef (ONE SHOT)

Laef (ONE SHOT)

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, May 5, 2024
WpInfo
Fiction
Science Fiction
Jia dan Yaru terbangun di dalam kapal luar angkasa besar di tengah lautan bintang antah-berantah. Tidak ada sedikit pun hal yang dapat mereka ingat. Ratusan jam mereka menunggu ingatan mereka kembali, tapi mereka berakhir seperti majikan yang kehilangan anjingnya. Anjingnya tersesat entah di mana dan sang majikan tak henti-hentinya menunggu. Satu-satunya jalan menuju ingatan mereka adalah perpustakaan kapal. Dan meski begitu, tidak satu pun buku-buku di sana memicu suatu kenangan. Hingga pada suatu saat, datang suara rekaman dari suatu entitas yang disebut "Kendali Misi." Cerita pendek ini berkisah tentang kekosongan, keputusasaan, dan keindahan dari dua hal itu.
All Rights Reserved
#146
hope
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Good Doctor
  • NOESIS [END]
  • RUNTUH (Rumah Yang Ingin Utuh) | Selesai
  • Pak Udin
  • Suara Yang Tak Pernah Di Dengar
  • Kapal Tanpa Nakhoda | Selesai
  • I [Never] Give Up On You a.k.a Jarak Antarbintang - [Telah Terbit]
  • Broken melodies
  • Menunggu Waktu, Menemukan Dirimu

Lara dan emosi telah terkubur dalam. Meninggalkan kenyataan akan kedudukan, keluarga dan kenangan. Dia telah melihat bagaimana kehidupan dulu, meski sementara lalu kembali terhapus setelah bangun kembali. "Setidaknya aku akan berusaha bahagia lagi. Meski mungkin sulit." Bibirnya tersungging meski tak mendapatkan emosi dari ingatan terdahulu. "Terimakasih Dion dan Arsena. Kapal layar telah sampai di tujuan, kini giliran kapalku yang berlayar di semesta luas ini." Dipandangnya kedua sosok itu lalu membungkuk memberikan salam terakhir. ... Terbangun dari sisa mimpi, hanya nama samar Arsena yang masih lekat. Ia sedikit takut lupa. Hari masih gelap, jika kembali tidur mungkin akan benar-benar lupa sisa mimpi ini. "Huahh, alat tulis. Mesti harus ada bekas mimpi." Ujarnya usai menguap lebar. Menengok ke kiri dimana nakas berada, namun tak satupun benda untuk menulis berada. Sementara hasrat kembali tidur kian menguasai. Jujur saja bagi buta ini amat dingin hawanya, sehingga ia menyerah terhadap kantuk. Karya ke tiga nih, semoga menghibur 😁 Vote dan kasih komen pliss.

More details
WpActionLinkContent Guidelines