Soulmate and Fate [End]

Soulmate and Fate [End]

  • WpView
    Reads 283
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 49
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 22, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Science Fiction
Time Travel
Romance
Aghis hanya punya satu penyesalan dalam hidupnya: ibunya. ‎ ‎Ia tumbuh melihat mimpi ibunya hancur dan hidupnya terjebak dalam kemiskinan. ‎ ‎Di ambang kematian akibat kecelakaan, Aghis memohon satu hal pada Tuhan - kesempatan kedua. ‎ ‎Dan ketika ia membuka mata... ia kembali ke masa saat ibunya masih remaja. ‎ ‎Kali ini, Aghis bertekad mengubah takdir. ‎Menghalangi pernikahan orang tuanya. Dan mewujudkan mimpi sang ibu menjadi dokter. ‎ ‎Tapi... apakah takdir bisa benar-benar diubah? ‎Atau justru ia sedang menciptakan luka yang lebih besar?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • RELLAWAY-The Beginning-
  • Terlalu Peka
  • Orange Flight (End) ✔
  • Time Loop
  • Mengenal Diri, Mencari Tujuan
  • Tumbuh di Atas Patah
  •  HAZELA
  • Maybe Happy?✔

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines