Tu Fui Ego Eris
  • Reads 62
  • Votes 3
  • Parts 3
  • Reads 62
  • Votes 3
  • Parts 3
Ongoing, First published May 07, 2024
[13+]

"Kenapa Tidalboris dikata bajingan Destruction?"

Kami telah melewati resepsionis ketika Aventurine secara tidak langsung menyulut percakapan. Jelas sekali fokus penjudi itu tertuju pada halaman tengah majalah, namun Ratio merasa adanya kewajiban memuaskan pertanyaan tersebut. "Kebenaran."

Aventurine akhirnya melempar majalah terakhir ke sofa panjang lobi. Tatapannya menguarkan kebingungan, menegaskan celoteh tadi sebatas konsumsi pribadi.

"Sebelum itu ada baiknya memahami konsep kebenaran yang terkadang dikaitkan dengan moralitas. Dalam lingkup kecil seperti peradaban akan dianggap buruk bilamana konsep ini sengaja ditumpang-tindihkan dengan nilai yang bertolak belakang dari budaya setempat, sedangkan bagi variabel bebas seperti Aeon konsep ini sebatas rambut dibelah tujuh. Namun pastinya kebenaran adalah sesuatu yang salah bila disembunyikan, hina bila diabu-abukan, dan..."

Ratio menyamakan ritme seperti sedang dihadapkan dengan papan catur. Akan tetapi sebelum satu gerakan pamungkas agresinya mendadak menjadi residu. Dialog malam itu berakhir sepihak dengan Ratio yang melempar ulasan sarkas, "Sebaiknya urus dirimu sendiri, penjudi. Tidak usah pura-pura peduli."
All Rights Reserved
Sign up to add Tu Fui Ego Eris to your library and receive updates
or
#29honkaistarrail
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Dosa Ku cover
The Best Of Miracle cover
Selena (Wanita Panggilan) cover
BABY CHANIE cover
After Graduation cover
Kesayangan Bunda cover
Rafa [End💗] cover
Kisah Tak Sempurna cover
oneshoot twoshoot Bp  (Treasure) 🔞 cover
brother ; drarry cover

Dosa Ku

76 parts Ongoing

Liu Qiaqio, Permaisuri Dinasti Jin, telah menyerahkan hati, jiwa, dan raganya untuk sang kaisar. Dia mencintainya dengan sepenuh hati hingga merasa lelah, tetapi sang kaisar yang dingin hanya memiliki mata untuk satu orang, dan orang itu bukanlah dirinya. Kehangatan di mata kaisar saat memandang orang itu tidak pernah menjadi miliknya, kelembutan suara kaisar saat berbicara dengan orang itu tidak pernah ditujukan padanya, bahkan hingga ajal menjemput. "Apa salahku sehingga kau membenciku sejauh ini? Apa aku telah melakukan kesalahan sehingga kau memandangku dengan begitu hina? Apakah mencintaimu adalah dosa yang begitu besar?" tanyaku dengan lemah. "Dosamu adalah mencintai seseorang yang seharusnya tidak kau cintai," jawabnya dingin. 'Dia benar, aku telah menghabiskan terlalu banyak cinta untuknya hingga aku tidak punya sisa cinta untuk anak-anakku, untuk mereka yang benar-benar peduli padaku. Jika aku diberi satu kesempatan untuk menebus semua itu, aku akan menghabiskan seluruh hidupku melakukannya,' pikirku sembari menutup mata dan menyambut kematian. Atau begitulah pikirku.