Kanvas Berwarna

Kanvas Berwarna

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 8, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Kala itu, aku menatap langit yang sebentar lagi akan menjatuhkan isak tangisnya. Jangan nangis dong langit! nanti aku ga bisa pulang, gumamku. Sore itu aku sendirian di depan gerbang sekolah, ku goyangkan kaki-kaki yang beralaskan sepatu pantofel itu. Sesaat, aku mendongakan kepalaku. Pada saat itu, semestaku terpaku pada dua mata yang ingin aku lihat selalu. Senyumnya yang indah, matanya yang tajam, dan kulitnya yang membuatku terpaku pada indahnya sawo matang. Ia menatapku, sungguh indah sekali. Sejak itu, dunia kami berjalan bersama berdampingan. Namun, tiba-tiba semua terlihat berantakan ketika ada seseorang yang memintaku untuk menjadi 'calon menantu', dan ia yang memilih berjalan sendiri karena alasan ekonomi. Akankah aku bisa membujuknya?akankah memang kita ditakdirkan berjuang untuk bersama?akankah hubungan kita pantas untuk masih kita genggam bersama? ~laafi, 8 Mei 2024
All Rights Reserved
#15
rintik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • ARLEA || Arlo • Hillea - END
  • PETRICHOR [Lengkap]
  • °•○ RENJANA ○•° {On Going}
  • WAITERS
  •  Widower's Fat Wife [End]
  • AMOUR (Mr. Pradipta)
  • Dia Arsen (END)
  • KETOSNYA REZA [BL]

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines